TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Upaya mendongkrak produksi jagung di Kabupaten Berau kembali dilakukan. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau memastikan bantuan benih jagung tahun ini tetap digulirkan, meski di tengah tantangan berkurangnya luas lahan tanam.
Fungsional Analis Pasar Hasil Pertanian DTPHP Berau, Wono Nugroho, mengungkapkan bahwa bantuan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut berupa benih jagung hibrida yang memiliki potensi hasil lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya.
“Untuk tahun ini memang belum ada bantuan benih komposit. Tetapi ada bantuan benih jagung hibrida dari APBN. Saat ini belum masuk ke Berau, namun estimasi distribusi ke daerah kita pada bulan Mei ini, insyaAllah,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, bantuan tersebut akan menyasar lahan seluas sekitar 1.569 hektare yang tersebar di lebih dari 40 kampung. Penyaluran dilakukan kepada kelompok tani berdasarkan usulan yang telah diajukan sebelumnya.
Menurut Wono, penggunaan benih hibrida menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas jagung secara signifikan. Keunggulan varietas ini dinilai mampu memberikan hasil panen yang lebih optimal jika didukung pengelolaan yang baik.
“Keunggulan jagung hibrida ini memang pada potensi hasilnya yang lebih tinggi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani di Berau,” ungkapnya.
Namun di balik optimisme tersebut, DTPHP Berau juga mengakui adanya tantangan serius di lapangan. Salah satunya adalah penurunan luas tanam akibat alih fungsi lahan yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Memang saat kunjungan ke lapangan, kami melihat ada penurunan luasan tanam. Salah satu penyebabnya adalah alih fungsi lahan. Namun di beberapa lokasi lain juga ada pembukaan lahan baru,” jelasnya.
Selain itu, keterbatasan sarana pasca panen masih menjadi persoalan klasik yang dihadapi petani. Minimnya alat pengering (dryer) membuat kualitas hasil jagung belum maksimal, terutama saat kondisi cuaca tidak mendukung.
“Evaluasi lainnya, petani masih membutuhkan alat pasca panen seperti dryer atau pengering jagung. Ini penting untuk meningkatkan kualitas hasil,” ucapnya.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, DTPHP Berau terus mengoptimalkan peran petugas penyuluh lapangan (PPL) dalam mendampingi petani, mulai dari proses tanam hingga pasca panen.
Ia menambahkan, dengan kombinasi bantuan benih hibrida dan pendampingan intensif, pemerintah daerah berharap produksi jagung di Berau dapat meningkat. Meski demikian, faktor eksternal seperti serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan kondisi cuaca tetap menjadi variabel penentu.
“Harapannya tentu produksi jagung di Berau bisa meningkat. Selama tidak ada serangan hama penyakit dan tidak terjadi kekeringan, semoga hasilnya bisa optimal,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





