GUNUNG TABUR, PORTALBERAU– Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Gunung Tabur Tahun 2026 menjadi momentum penegasan arah pembangunan yang menyentuh seluruh sektor, mulai dari pelestarian sejarah, penguatan ekonomi kerakyatan, hingga penataan kawasan perkotaan.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan bahwa Gunung Tabur memiliki nilai historis yang kuat sebagai wilayah Kesultanan Gunung Tabur.
Menurutnya, sejarah merupakan aset berharga yang harus dijaga dan dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata.
“Kita meyakini sejarah adalah aset berharga untuk kemajuan daerah. Wisatawan yang datang pasti penasaran dengan sejarah Kesultanan Gunung Tabur,” ujarnya.
Lanjutnya, sebagai bentuk perhatian, pada 2026 Pemkab Berau akan merehabilitasi total atap Keraton dan Museum Gunung Tabur, serta melakukan penataan dan pembangunan area pemakaman kerabat Imam Ambuy di samping makam Kesultanan Gunung Tabur.
Dalam forum Musrenbang tersebut, dirinya memaparkan sedikitnya 18 program pembangunan yang akan direalisasikan di Kecamatan Gunung Tabur pada 2026. Jumlah ini dinilai cukup signifikan di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
“Biasanya satu kecamatan hanya mendapat dua kegiatan. Tapi tahun ini ada 18 program yang menyentuh hampir seluruh kampung,” tegasnya.
Selain itu, di sektor pertanian, pemerintah akan membangun rumah gilingan padi, jalan usaha tani, bantuan alat panen dan perontok, bantuan benih jagung, bibit sapi, hingga hibah kandang ayam.
Di sektor perikanan, bantuan kolam terpal untuk budidaya ikan akan diberikan kepada Kampung Merancang Ilir, Melati Jaya dan Samburakat. Selain itu, bantuan mesin ketinting dan perahu untuk nelayan juga dialokasikan bagi beberapa kampung.
Sementara di bidang kesehatan, Pemkab Berau akan merehabilitasi Puskesmas Gunung Tabur dengan penekanan pada pelayanan 24 jam tanpa diskriminasi administrasi.
“Utamakan keselamatan dan kemanusiaan. Jangan ada pasien ditolak karena alasan administrasi,” ucapnya.
Di bidang pendidikan, sejumlah pembangunan dan rehabilitasi ruang kelas akan dilaksanakan di SD dan SMP wilayah Gunung Tabur, termasuk pembangunan RKB dan ruang kelas baru TK.
Untuk infrastruktur, program yang direncanakan meliputi pembangunan dan rehabilitasi jalan, normalisasi sungai dan drainase, pembangunan saluran irigasi, perkuatan tebing sungai, rehabilitasi dermaga Kampung Batu-Batu, hingga pengadaan penerangan jalan umum (PJU).
Sri juga menyoroti persoalan drainase, sampah, dan estetika kawasan perkotaan Gunung Tabur yang menjadi lintasan menuju kawasan strategis pariwisata nasional. Ia meminta camat, lurah dan OPD terkait sigap menyelesaikan persoalan tersebut.
“Kita berada di wilayah empat kota kecamatan terdekat. Penataan harus rapi, bersih dan indah sesuai Gerakan Indonesia Asri,” ujarnya.
Sri juga mengingatkan bahwa kebijakan efisiensi berdampak pada penurunan alokasi dana kampung dari Rp320 miliar pada 2025 menjadi Rp145 miliar di 2026. Karena itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam mengelola potensi daerah.
Ia mendorong perusahaan dan perbankan untuk mengoptimalkan dana CSR secara transparan dan selaras dengan program pemerintah daerah.
“CSR adalah hak masyarakat. Harus transparan dan dikolaborasikan dengan program pemerintah, bukan berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok,” tuturnya.
Diakuinya, saat ini terdapat 10 kampung di Kecamatan Gunung Tabur, dengan dua kampung berstatus mandiri, lima maju, dan tiga berkembang. Bupati berharap seluruh kampung dapat meningkat statusnya melalui sinergi pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Sri mengajak seluruh pihak memiliki visi dan semangat yang sama dalam membangun Gunung Tabur.
“Kesuksesan diawali dari mimpi. Jangan hanya saya yang bermimpi, kita semua harus punya visi yang sama untuk kemajuan Gunung Tabur,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




