TANJUNG REDEB, PORTALBERAU- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kali ini, Disbudpar menggelar pelatihan pembuatan roti dan kue tradisional khas Berau beberapa waktu lalu, bertempat di Pendopo Kelurahan Gunung Panjang.
Kabid Bina Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Berau, Nurjatiah, mengatakan bahwa ekonomi kreatif memiliki kontribusi besar bagi pembangunan nasional.
Lanjutnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini pada periode 2010–2013 rata-rata menyumbang 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan nilai tambah mencapai Rp 641,8 triliun. Industri kreatif bahkan melibatkan 5,4 juta pelaku usaha dan mampu menyerap 11,8 juta tenaga kerja.
“Ekonomi kreatif terbukti menjadi tulang punggung perekonomian. Bukan hanya menambah nilai ekonomi, tapi juga membuka lapangan kerja baru dan mengangkat budaya lokal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatihan ini juga menjadi bagian dari implementasi Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah (Talanpekda) Berau, khususnya di subsektor kuliner.
Melalui kegiatan ini, ia menuturkan bahwa pelaku usaha kuliner diharapkan dapat mengasah keterampilan, memperluas akses pemasaran, sekaligus mempromosikan makanan khas Berau melalui hotel, restoran, hingga toko swalayan.
“Kami ingin kuliner khas Berau mudah dikenali dan tersedia di banyak tempat. Tidak hanya di warung makan, tetapi juga bisa menjadi sajian resmi di hotel atau produk yang dijual di swalayan,” ungkapnya.
“Dengan begitu, wisatawan semakin mudah menemukan identitas kuliner daerah kita,” sambungnya.
Selain meningkatkan kapasitas teknis, lanjut Nurjatiah, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan pelaku ekonomi kreatif.
“Komitmen bersama sangat penting. Jika kita bergerak searah, kuliner khas Berau bisa benar-benar menjadi daya tarik wisata sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” ucapnya.
Di sisi lain, ia mengakui masih ada kendala yang dihadapi. Promosi kuliner khas Berau masih minim, kerja sama lintas sektor belum optimal, dan wisatawan sering kali kesulitan menemukan sajian tradisional saat berkunjung.
“Permasalahan ini memang tidak bisa selesai dalam sekejap, tapi pelatihan ini menjadi salah satu langkah awal untuk mengatasinya,” tegasnya.
Seorang peserta pelatihan, Siti, yang sehari-hari berjualan kue basah di Tanjung Redeb, mengaku sangat terbantu dengan kegiatan ini
“Biasanya saya hanya membuat kue yang itu-itu saja. Di sini saya belajar variasi baru dan cara mengemas produk agar lebih menarik. Kalau kue saya bisa masuk ke hotel atau swalayan, tentu penghasilan saya juga meningkat,” katanya.
Peserta lain, Arif, pemilik usaha kecil roti rumahan, juga melihat peluang besar dari pelatihan tersebut.
“Saya berharap ada keberlanjutan. Jangan hanya sekali ini saja. Kalau ada pendampingan, kami bisa lebih siap bersaing, apalagi dengan produk khas daerah yang punya ciri khas,” katanya.
Melalui pelatihan ini, Disbudpar Berau berharap kuliner khas daerah semakin dikenal luas, tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh wisatawan mancanegara. Dengan demikian, UMKM kuliner dapat tumbuh lebih kuat sekaligus menjadi salah satu sektor penopang ekonomi Bumi Batiwakkal. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Dedy Warseto





