TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemanfaatan teknologi digital mulai diarahkan untuk menjawab persoalan pengelolaan sampah di daerah. Berau Robotic (BETRIC) berkolaborasi dengan mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung melalui program internship untuk mengembangkan sistem pemantauan otomatis yang mampu mendeteksi tempat penampungan sampah ketika sudah penuh.
Project Director BETRIC Berau, Muhammad Husein Karbala, menjelaskan pengembangan tersebut ditujukan untuk mempermudah pemantauan kondisi kontainer sampah arm roll maupun tempat penampungan sementara (TPS).
“Sistem ini dirancang agar informasi mengenai kondisi penampungan dapat diketahui melalui peta digital tanpa harus selalu mengandalkan pemeriksaan langsung di setiap lokasi,” ujarnya.
Melalui sistem ini, kata dia, pihaknya ingin membantu mempermudah pemantauan kondisi tempat penampungan sampah.
“Ketika kontainer atau TPS terdeteksi penuh, informasi tersebut dapat ditampilkan pada peta monitoring sehingga lokasi yang membutuhkan penanganan bisa diketahui lebih cepat,” ungkapnya.
Menurutnya, informasi berbasis lokasi menjadi bagian penting dalam mendukung pengelolaan sampah yang lebih terarah. Petugas nantinya dapat melihat titik penampungan yang membutuhkan perhatian dan menggunakan informasi tersebut sebagai pertimbangan dalam menentukan prioritas pengangkutan.
“Dengan adanya peta monitoring, petugas diharapkan tidak lagi kesulitan mengidentifikasi titik-titik yang sudah penuh. Informasi ini bisa menjadi acuan untuk menentukan lokasi mana yang perlu diprioritaskan dalam proses pengangkutan sampah,” jelasnya.
Diterangkannya, pengembangan sistem ini juga diharapkan mampu membantu mengurangi keterlambatan penanganan penampungan yang penuh. Sebab, kondisi tersebut berpotensi memicu penumpukan sampah apabila tidak segera ditangani.
Selain mendukung pemantauan, ia menambahkan bahwa data yang tersaji dalam satu sistem dapat membantu koordinasi operasional.
“Jadi nanti pengelola itu memiliki gambaran mengenai kondisi di lapangan sehingga perencanaan pengangkutan dapat dilakukan dengan lebih efektif,” terangnya.
Dirinya menilai kolaborasi dengan mahasiswa ITENAS Bandung menjadi kesempatan untuk menghubungkan pengembangan teknologi dengan kebutuhan nyata masyarakat.
“Lewat program internship yang kita galakkan ini mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus terlibat dalam pengembangan solusi untuk persoalan lingkungan,” bebernya.
Pihaknya pun ingin pengembangan teknologi tidak berhenti pada konsep, tetapi bisa diarahkan untuk menjawab kebutuhan di lapangan. Kolaborasi ini menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan inovasi yang memiliki manfaat nyata bagi pengelolaan sampah.
“Semoga ke depan sistem deteksi otomatis yang terintegrasi dengan peta digital tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah yang lebih responsif dan berbasis data di Kabupaten Berau,” kuncinya. (*/)
Penulis: Muhammad Izzatullah
Editor: Dedy Warseto





