TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Harga sejumlah komoditas sayuran di Kabupaten Berau cenderung mengalami kenaikan saat musim kemarau. Kondisi tersebut tidak lepas dari berkurangnya produksi akibat petani harus menghadapi keterbatasan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan tidak semua petani sayur mampu mempertahankan aktivitas budidaya ketika musim kemarau berlangsung.
Menurutnya, tanaman sayuran membutuhkan penyiraman secara rutin. Dalam kondisi normal, petani bahkan harus melakukan penyiraman setidaknya dua kali dalam sehari, yakni pada pagi dan sore.
“Kalau musim kemarau, tidak semua petani sayur yang biasa menanam sayur itu tahan. Karena kalau menanam sayur, minimal satu hari dua kali siram, pagi dan sore,” ungkap Lita.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani mengurangi aktivitas tanam. Dampaknya, pasokan sayuran di pasar ikut menurun. Ketika produksi berkurang sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan, harga komoditas pun cenderung meningkat.
“Sehingga tidak banyak yang menanam. Produksinya kurang, akhirnya harganya lebih mahal,” jelasnya.
Lita menyebut kondisi tersebut merupakan pola yang umum terjadi pada komoditas hortikultura ketika menghadapi musim kemarau. Kenaikan harga di tingkat konsumen tidak selalu mencerminkan tingginya harga yang diterima petani.
Menurutnya juga, harga sejumlah komoditas hortikultura di tingkat petani justru relatif tidak terlalu tinggi. Namun, harga dapat meningkat setelah melewati proses distribusi hingga sampai ke pasar.
Ia mencontohkan komoditas cabai yang pergerakan harganya juga dipengaruhi kondisi produksi dan distribusi. Fluktuasi harga tersebut menjadi salah satu konsekuensi dari ketergantungan produksi sayuran terhadap kondisi cuaca.
Selain sayuran, Lita turut menyinggung ketersediaan daging ayam di Berau. Beberapa waktu sebelumnya, pasokan ayam lokal sempat berkurang di pasaran sehingga kebutuhan masyarakat turut dipenuhi dari daerah lain.
Namun, kondisi tersebut kini mulai kembali normal. Stok ayam di pasaran telah tersedia dan harga berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram.
“Sekarang stok banyak lagi dan harga sudah Rp40 ribuan,” ujarnya.
Menurut Lita, harga tersebut masih berada dalam kisaran yang umum untuk Berau. Ia mengatakan harga komoditas pangan di daerah juga dipengaruhi biaya distribusi dan kondisi pasokan.
Lita yang rutin memantau kondisi pasar setiap pekan menilai harga pangan tidak selalu dapat disamakan antara Berau dengan daerah lain, termasuk Pulau Jawa. Perbedaan biaya distribusi dan karakteristik produksi membuat harga komoditas di setiap daerah memiliki kondisi tersendiri.
Ia menambahkan, masyarakat Berau selama ini juga relatif terbiasa dengan harga sejumlah bahan pangan yang lebih tinggi dibandingkan daerah sentra produksi. Kondisi tersebut terutama terlihat pada komoditas yang pasokannya bergantung pada distribusi dari luar daerah.
Karena itu, menurutnya, menjaga ketersediaan produksi lokal menjadi penting untuk membantu menjaga pasokan dan mengurangi tekanan harga, terutama ketika daerah memasuki periode dengan kondisi cuaca yang kurang mendukung bagi sektor hortikultura. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Dedy Warseto





