BALIKPAPAN, PORTALBERAU — Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan mulai menyiapkan langkah darurat untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian di tengah kemarau panjang.
Keterbatasan curah hujan membuat sejumlah lahan pertanian mulai mengalami penurunan pasokan air. Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian besar aktivitas pertanian di Balikpapan masih bergantung pada air hujan.
Kepala DKP3 Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan dampak kemarau terhadap sektor pertanian sulit dihindari ketika pasokan air mulai berkurang.
“Ya, pasti berdampak. Kota Balikpapan itu sangat tergantung pada air hujan. Sistem pertanian kita juga seperti itu. Jadi begitu kemarau panjang, pasti akan berdampak. Pasokan air berkurang,” kata Sri Wahjuningsih, Senin (28/9/2026).
Mengantisipasi kondisi tersebut, DKP3 sebelumnya telah meminta kelompok tani memanfaatkan periode hujan untuk mengisi embung maupun fasilitas penampungan air yang tersedia.
Imbauan itu disampaikan melalui surat edaran kepada kelompok tani agar cadangan air dapat disiapkan sebelum memasuki periode kering.
“Waktu hujan masih deras, bagi yang memiliki embung pertanian maupun tempat-tempat penampungan air, kami sudah mengimbau agar diisi dengan air hujan yang saat itu masih berlimpah,” jelasnya.
Namun, persoalannya tidak semua kawasan pertanian memiliki embung atau tempat penyimpanan air. Ketika sumber air mulai menipis, lahan-lahan tersebut menjadi lebih rentan terdampak kemarau.
Karena itu, DKP3 mulai mengambil langkah penanganan langsung di sejumlah lokasi yang mengalami keterbatasan sumber air.
“Saat ini, untuk beberapa lokasi yang tidak memiliki penampungan air, sebagian sudah kita lakukan penanganan darurat dan distribusi air,” ujarnya.
Distribusi air menjadi salah satu upaya pemerintah menjaga aktivitas pertanian masyarakat agar tetap berjalan selama periode kemarau. Dukungan juga diarahkan terhadap sumber air maupun sumur yang dimanfaatkan masyarakat di kawasan yang mengalami keterbatasan pasokan.
Sri menjelaskan, lahan pertanian di Balikpapan tersebar di sejumlah wilayah, mulai kawasan timur hingga utara kota. Kondisi sumber air di setiap wilayah pun berbeda sehingga penanganannya dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing lokasi.
Wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air menjadi perhatian dalam penanganan saat ini. Pemerintah berupaya memastikan kebutuhan air tetap tersedia, terutama bagi lahan pertanian yang tidak memiliki cadangan air sendiri.
Menurut Sri, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya keberadaan embung dan fasilitas penampungan air bagi pertanian Balikpapan.
Cadangan air yang disiapkan saat musim hujan dapat menjadi penopang ketika curah hujan menurun. Dengan begitu, ketergantungan terhadap hujan sebagai satu-satunya sumber air dapat dikurangi.
DKP3 pun terus memantau kondisi lahan pertanian serta ketersediaan air di sejumlah wilayah. Distribusi air dan penanganan darurat dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan di masing-masing lokasi.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian masyarakat sekaligus mengurangi dampak kemarau panjang terhadap produksi pangan di Kota Balikpapan. (*/)





