TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Malam Anugrah Dharma Festival Teater 5 bertajuk “Muda Bersuara, Muda Berkarya” menjadi penanda berakhirnya rangkaian Festival Teater Pelajar SMP dan SMA/sederajat se-Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Sekaltimtara) Tahun 2026.
Ajang yang mempertemukan pelajar dari berbagai daerah tersebut tidak hanya menjadi ruang kompetisi seni pertunjukan, tetapi juga wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan kreativitas, kemampuan, serta keberanian mengekspresikan gagasan melalui panggung teater.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengapresiasi seluruh peserta yang telah menyelesaikan rangkaian pertunjukan. Menurutnya, setiap pementasan merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan ide, bakat, kemampuan, hingga kerja keras para pelajar.
“Alhamdulillah, semuanya sudah tuntas. Semua sudah mengerahkan karya dan perannya di atas panggung. Itu merupakan hasil dari pikiran, bakat, kemampuan, kecerdasan, dan usaha maksimal mereka,” ungkap Yudha.
Menurutnya, penyelenggaraan Festival Teater yang telah memasuki tahun kelima menjadi modal penting untuk terus mengembangkan ekosistem seni pertunjukan di Berau.
Yudha berharap tema “Muda Bersuara, Muda Berkarya” tidak berhenti sebagai slogan kegiatan. Anak muda perlu memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan sekaligus menghasilkan karya yang dapat dikenal lebih luas.
“Kalau hanya bersuara, kita tidak akan bisa mendengar. Karena itu harus bersuara sekaligus berkarya,” katanya.
Ia menilai perkembangan teater di Berau perlu diarahkan agar tidak hanya berhenti pada kompetisi tahunan. Ke depan, karya-karya terbaik pelajar dan komunitas teater di daerah diharapkan dapat ditampilkan di ruang publik maupun destinasi yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Salah satu gagasan yang disebut Yudha adalah membawa pertunjukan teater ke kawasan bersejarah seperti Teluk Bayur. Menurutnya, latar sejarah dan budaya yang dimiliki Berau dapat menjadi sumber cerita sekaligus panggung alternatif bagi seniman teater.
“Coba nanti kita komunikasikan. Kalau ada cerita yang menarik, bisa kita tampilkan di sana. Kita setting sesuai tempatnya, sehingga masyarakat juga bisa melihat bahwa teater dapat menjadi bentuk ekspresi sekaligus memperkenalkan sejarah dan budaya,” jelasnya.
Ia menyebut, konsep tersebut juga dapat menjadi bagian dari upaya memperluas promosi seni dan budaya Berau. Pertunjukan tidak hanya digelar di ruang konvensional, tetapi dapat dikemas dengan memanfaatkan lokasi yang memiliki daya tarik tersendiri.
Dengan demikian, teater diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga mampu menghubungkan seni pertunjukan dengan sejarah, pariwisata, serta ekonomi kreatif.
Yudha mengatakan, Disbudpar Berau berkomitmen untuk terus memberikan ruang bagi perkembangan teater di daerah. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan dukungan bersama, termasuk dari sekolah, komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Kalau kita saling mendukung, insyaallah teater-teater yang ada di Berau bisa terus berkembang dan terhubung dengan teater yang ada di Nusantara,” ujarnya.
Ia juga melihat sekolah memiliki peran penting dalam melahirkan talenta baru. Lingkungan pendidikan dinilai perlu memberikan ruang yang cukup bagi pelajar untuk mengeksplorasi kemampuan dan kreativitasnya.
Festival Teater 5 pun diharapkan tidak menjadi akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang pengembangan seni pertunjukan di Bumi Batiwakkal.
“Teater ini luar biasa. Yang penting, jangan berhenti sampai di sini. Harus terus dilakukan dan diberi ruang agar anak-anak bisa mengeksplorasi kemampuannya,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Dedy Warseto




