TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Pemerintah Kabupaten Berau terus berupaya menjaga kelancaran konektivitas udara di tengah musim kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini dinilai penting untuk memastikan aktivitas pariwisata tetap berjalan dan kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi unggulan Berau tidak terganggu.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, transportasi udara menjadi salah satu penunjang utama perkembangan pariwisata daerah. Sebab, banyak wisatawan yang datang ke Berau melalui jalur udara sebelum melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata seperti Kepulauan Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.
Menurutnya, pencegahan karhutla perlu diperkuat agar tidak memicu kabut asap yang dapat mengganggu jarak pandang serta berpotensi berdampak terhadap operasional penerbangan.
“Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan Berau. Menjaga lingkungan tetap aman dari karhutla berarti juga menjaga akses wisatawan untuk datang ke daerah kita,” ujar Sri Juniarsih.
Ia menambahkan, dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat berimbas terhadap perekonomian daerah. Gangguan penerbangan akibat kabut asap berpotensi mengurangi mobilitas wisatawan dan pada akhirnya memengaruhi sektor pariwisata.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Berau memperkuat sinergi lintas sektor dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, BMKG, relawan, hingga pihak perusahaan. Dukungan personel, peralatan, logistik, serta kebutuhan operasional lainnya terus disiapkan guna mempercepat penanganan apabila ditemukan titik api.
Pengendalian karhutla juga menjadi bagian dari upaya menjaga citra Berau sebagai salah satu tujuan wisata alam unggulan di Kalimantan Timur. Kondisi lingkungan yang aman dan kondusif diharapkan dapat memberikan rasa nyaman bagi wisatawan sekaligus mendukung maskapai agar tetap melayani penerbangan menuju Berau secara normal.
Dengan kolaborasi seluruh pihak, Pemkab Berau optimistis sektor pariwisata tetap mampu berkontribusi terhadap perekonomian daerah. Kelancaran konektivitas udara dan kondisi lingkungan yang terjaga menjadi dua faktor penting untuk mempertahankan pertumbuhan pariwisata selama musim kemarau. (ADV)
Editor: Dedy Warseto




