TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pengembangan sektor perikanan budidaya di wilayah pesisir Berau mulai diarahkan pada pola yang tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan ekosistem tetap terjaga.
Dinas Perikanan (Diskan) Berau mendorong penerapan sistem tambak berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kawasan mangrove. Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat keberadaan hutan mangrove memiliki keterkaitan erat dengan keberlangsungan ekosistem pesisir dan aktivitas budidaya masyarakat.
Kepala Diskan Berau, Abdul Majid, mengatakan pengembangan tambak saat ini tidak lagi diarahkan pada pembukaan lahan secara masif. Masyarakat justru didorong menerapkan pola budidaya yang memberikan ruang cukup bagi mangrove untuk tetap tumbuh dan berfungsi sebagai penyangga lingkungan.
Salah satu konsep yang dikembangkan adalah shrimp carbon aquaculture, yang diterapkan melalui kolaborasi dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
“Pola yang kami dorong bukan membuka kawasan tambak sebanyak-banyaknya. Produksi tetap ditingkatkan, tetapi caranya harus memperhatikan keberadaan mangrove yang sudah ada,” ujarnya.
Dalam penerapannya, luasan lahan yang dimanfaatkan untuk aktivitas budidaya dibatasi. Untuk pengembangan area sekitar satu hektare, hanya sebagian kecil yang digunakan sebagai kolam produksi, sedangkan sebagian besar tetap dipertahankan sebagai kawasan mangrove.
“Kalau ada lahan satu hektare, bukan berarti seluruhnya dijadikan tambak. Sekitar 20 persen dapat dimanfaatkan untuk budidaya, sedangkan 80 persen lainnya tetap dipertahankan sebagai mangrove,” jelasnya.
Menurutnya, pola tersebut menjadi salah satu pendekatan yang relevan bagi kawasan pesisir Berau. Berbeda dengan sistem budidaya intensif di kawasan perkotaan yang dapat menggunakan metode seperti bioflok, tambak di wilayah pesisir memiliki karakteristik lingkungan yang membutuhkan pendekatan berbeda.
Ia menyebut sejumlah wilayah seperti Kampung Pegat Betumbuk, Tabalar Muara dan Teluk Semanting telah menjadi bagian dari penerapan konsep budidaya yang mempertahankan ekosistem mangrove.
Tak hanya berbicara mengenai lingkungan, sistem tersebut juga diarahkan untuk memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat. Hasil budidaya menunjukkan perkembangan positif pada sejumlah komoditas, mulai dari udang, bandeng hingga kepiting.
“Dari sisi produksi, hasilnya cukup menjanjikan. Beberapa komoditas seperti udang, bandeng dan kepiting menunjukkan perkembangan yang baik,” katanya.
Kepastian pasar juga menjadi salah satu faktor pendukung. Hasil produksi dari tambak tersebut telah memiliki jaringan pembeli, sehingga petambak memiliki gambaran pasar ketika memasuki masa panen.
“Petambak tidak hanya memikirkan bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga sudah memiliki akses pasar. Jadi ketika panen, hasilnya sudah memiliki tujuan pemasaran,” ungkapnya.
Di sisi lain, Diskan Berau juga terus mendorong diversifikasi konsumsi ikan melalui pengembangan perikanan air tawar. Tantangannya, masyarakat Berau selama ini lebih terbiasa mengonsumsi ikan laut.
“Kami ingin pilihan konsumsi masyarakat semakin beragam. Selain ikan laut, ikan air tawar juga perlu mulai diperkenalkan dan ditingkatkan minat konsumsinya,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim




