TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemkab Berau semakin optimistis Geopark Sangkulirang-Mangkalihat akan ditetapkan sebagai Geopark Nasional. Hasil verifikasi lapangan yang dilakukan Tim Verifikator Geopark Nasional menunjukkan potensi geologi Berau dinilai sangat kuat.
Kini, fokus utama diarahkan pada penyempurnaan dokumen serta penguatan aspek budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dalam kesempatannya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budi Santosa, mengatakan proses verifikasi tidak hanya dilakukan melalui kunjungan lapangan, tetapi juga melalui pembahasan dokumen secara mendalam.
Menurutnya, dari total 26 geosite yang ada di kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, tidak semuanya dapat dikunjungi oleh tim verifikator karena keterbatasan waktu. Oleh sebab itu, setiap geosite dinilai berdasarkan kelengkapan dokumen dan data pendukung yang telah disiapkan.
“Semua geosite tetap dinilai walaupun tidak dikunjungi secara langsung. Penilaiannya dilakukan satu per satu melalui dokumen yang kami sampaikan,” ujarnya.
Yudha mengungkapkan, pembahasan dokumen bersama tim verifikator berlangsung hingga dini hari. Seluruh data ditelaah secara rinci untuk memastikan setiap indikator penilaian dapat terpenuhi.
“Ada beberapa data yang memang masih perlu disusun ulang, ada yang kurang lengkap dan ada yang perlu diperkuat. Itu yang menjadi catatan tim verifikator dan akan kami lengkapi dalam waktu satu bulan ke depan,” katanya.
Ia meyakini, apabila seluruh perbaikan tersebut dapat diselesaikan sesuai arahan, peluang Geopark Sangkulirang-Mangkalihat meraih predikat Geopark Nasional sangat besar sebelum melangkah ke tahapan berikutnya sebagai UNESCO Global Geopark.
“Kalau semua dokumen sudah lengkap, kami optimistis Geopark Sangkulirang-Mangkalihat bisa masuk kategori Geopark Nasional sebelum menuju geopark global,” ucapnya.
Yudha menjelaskan, dari sisi geologi, kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat tidak lagi diragukan kualitasnya. Keanekaragaman batuan, bentang alam, hingga kawasan hutan lindung yang masih terjaga menjadi nilai unggulan yang dimiliki Berau.
Ia membandingkan karakter kawasan geopark di Berau dengan Kabupaten Kutai Timur. Menurutnya, Kutai Timur memiliki kekuatan pada kawasan karst, pegunungan, dan gua-gua, sedangkan Berau unggul melalui pengembangan kawasan pesisir dan kepulauan yang telah berkembang menjadi destinasi wisata berbasis konservasi.
“Kalau di Kutai Timur lebih kuat pada kawasan karst dan pegunungannya. Berau memiliki karakter berbeda karena berada di wilayah pesisir dan kepulauan. Pengembangan pariwisata dan geosite di Berau juga sudah berkembang cukup baik,” jelasnya.
Dalam proses penilaian, lanjut Yudha, tim verifikator tidak hanya melihat aspek geologi. Berbagai indikator lain turut menjadi perhatian, mulai dari pelestarian kawasan, penelitian ilmiah, kegiatan edukasi, keterlibatan masyarakat, hingga dampak geopark terhadap peningkatan ekonomi lokal.
Selain itu, strategi promosi, tata kelola kelembagaan geopark, serta kesesuaian pelaksanaan program dengan pedoman nasional juga menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.
“Intinya penilaian tidak hanya soal batuan atau bentang alam. Yang dinilai juga bagaimana kawasan ini dilestarikan, bagaimana masyarakat dilibatkan, bagaimana manfaat ekonominya, aspek budayanya, hingga kegiatan pendidikan dan penelitian yang sudah dilakukan selama ini,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




