TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pelayanan hemodialisis atau cuci darah di RSUD Abdul Rivai mendapat respons positif dari pasien maupun keluarga pasien. Meski demikian, mereka berharap adanya penambahan ruangan agar layanan dapat menjangkau lebih banyak warga Kabupaten Berau.
Salah satu pasien cuci darah berinisial R, mengaku sempat menjalani terapi di luar daerah sejak 2024 sebelum akhirnya memutuskan kembali menjalani pelayanan di Berau pada pertengahan 2025.
Menurutnya, kualitas pelayanan cuci darah di RSUD Abdul Rivai tidak kalah dengan rumah sakit di kota besar seperti Balikpapan, Samarinda hingga Makassar.
“Kalau pelayanan sama saja seperti di Balikpapan, Samarinda, dan Makassar. Saya jadwal cuci darah setiap Rabu dan Sabtu. Saya mengikuti arahan dokter dan alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik, meskipun memang harus rutin cuci darah,” ujarnya.
Dirinya menilai fasilitas mesin cuci darah yang tersedia juga cukup memadai dan setara dengan rumah sakit di kota besar lainnya. Ia mengatakan, menjalani terapi di daerah sendiri jauh lebih meringankan, terutama dari sisi biaya dan tenaga.
“Lebih baik cuci darah di Berau karena pengeluaran lebih kecil. Kalau pasien yang sehat mungkin bisa berangkat sendiri, tapi kalau yang sakit ini yang agak kasihan,” katanya.
Meski puas terhadap pelayanan, ia berharap rumah sakit dapat menambah kapasitas ruangan hemodialisis agar pelayanan lebih maksimal.
“Harapannya kalau bisa ada penambahan ruangan karena kondisinya masih kecil dan saat ini hanya ada sif pagi. Jadi pasien-pasien yang antre bisa lebih terlayani,” tandasnya.
Hal serupa disampaikan Suyati, keluarga pasien cuci darah. Ia mengaku sebelumnya harus mendampingi anggota keluarganya menjalani terapi di Tarakan selama dua setengah tahun sebelum akhirnya pindah ke Berau sekitar tiga tahun lalu.
Menurutnya, kendala terbesar saat menjalani pengobatan di luar daerah adalah biaya transportasi dan kebutuhan tempat tinggal.
“Salah satu masalahnya transportasi dan biaya karena kalau di Tarakan kami harus ngontrak rumah. Kalau pelayanan kurang lebih sama, tetapi di Berau lebih efisien secara waktu dan keuangan,” ucapnya.
Ia juga menyebut kondisi pasien mengalami perkembangan yang cukup baik selama menjalani terapi di RSUD Abdul Rivai.
“Kami berharap layanan cuci darah di Berau dapat terus berkembang sehingga seluruh pasien tidak perlu lagi menjalani cuci darah ke luar daerah,” jelasnya.
Sebelumnya, Direktur RSUD Abdul Rivai, Jusram mengatakan ruang hemodialisis saat ini hanya mampu menampung delapan unit mesin sesuai standar BPJS Kesehatan, meskipun rumah sakit memiliki total 12 mesin cuci darah.
“Luas ruangan yang kami pakai saat ini hanya cukup untuk delapan mesin,” ujarnya.
Ia menjelaskan, empat mesin lainnya belum dapat dioperasikan karena keterbatasan ruang pelayanan dan standar operasional yang harus dipenuhi.
Saat ini tercatat sekitar 36 pasien rutin menjalani terapi cuci darah di RSUD Abdul Rivai, sementara puluhan warga Berau lainnya masih menjalani pengobatan di luar daerah. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





