TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Pemkab Berau melaksanakan pelantikan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu tingkat kecamatan, Rabu (8/4/26) pagi. Kegiatan berlangsung di Gedung Balai Mufakat, Jalan Cendana, Kelurahan Gayam.
Sebanyak 10 ketua TP PKK kecamatan resmi dilantik dan secara otomatis juga menjabat sebagai Ketua Tim Pembina Posyandu. Mereka berasal dari Kecamatan Tanjung Redeb, Sambaliung, Kelay, Segah, Tabalar, Biatan, Batu Putih, Biduk-Biduk, Pulau Derawan, dan Maratua.
Dalam kesempatannya, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada para ketua yang baru dilantik.
Ia berharap amanah tersebut dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Pelantikan ini merupakan penyesuaian dari pergantian jabatan camat, sehingga otomatis terjadi pergantian Ketua TP PKK Kecamatan dan Ketua Tim Pembina Posyandu,” jelasnya.
Sri juga menyoroti latar belakang para ketua yang beragam, mulai dari ibu rumah tangga hingga perempuan yang memiliki profesi sebagai guru, pegawai bank, maupun karyawan perusahaan.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya kemampuan membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan peran dalam organisasi.
Menurutnya, kunci utama dalam menjalankan tugas bukan pada banyaknya waktu yang dimiliki, melainkan pada kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan seluruh anggota di tingkat kecamatan.
“Tidak perlu waktu yang lama, tetapi bagaimana ibu-ibu bisa membangun komunikasi yang efektif dengan anggota TP PKK dan Posyandu. Minimal dalam seminggu bisa melakukan pertemuan langsung untuk memastikan program berjalan,” ujarnya.
Sri juga mengingatkan pentingnya adaptasi, khususnya bagi ketua yang mengalami rotasi antar kecamatan. Dengan kemudahan akses teknologi dan jaringan internet saat ini, ia menilai tidak ada alasan untuk tidak dapat menjalankan tugas secara optimal.
Lebih lanjut, ia menyoroti persoalan stunting yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Kabupaten Berau. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Berau mencapai 34 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan masih berada di atas rata-rata nasional sebesar 20 persen.
“Ini menjadi tugas kita bersama. Kita harus mampu menekan angka stunting tersebut agar bisa mendekati target nasional,” tegasnya.
Selain itu, berdasarkan data Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (SIGIZIKESGA) tahun 2025, jumlah balita di Berau tercatat sebanyak 23.105 anak. Namun, baru sekitar 40,6 persen yang terpantau melalui pengukuran di Posyandu.
Hal ini menunjukkan masih rendahnya tingkat kunjungan balita ke Posyandu, yang berdampak pada pemantauan tumbuh kembang anak.
“Masih ada sekitar 60 persen balita yang belum terpantau. Ini harus menjadi perhatian serius agar kita bisa memastikan anak-anak tumbuh sehat dan bebas stunting,” katanya.
Dirinya pun menegaskan kepada seluruh Ketua TP PKK dan Pembina Posyandu, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten, untuk menjadikan penanganan stunting sebagai fokus utama. Target nasional penurunan stunting hingga 14 persen pada tahun 2029 diharapkan dapat dicapai melalui kerja sama dan peran aktif seluruh pihak.
“Saya berharap ibu-ibu dapat menggerakkan seluruh anggota hingga ke tingkat bawah, berkoordinasi dengan PKK kabupaten, dan menjadikan penanganan stunting sebagai prioritas utama,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





