TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Pemkab Berau terus mematangkan persiapan pengajuan kawasan Sangkulirang–Mangkalihat sebagai geopark nasional. Saat ini, fokus utama pemerintah daerah adalah melengkapi berbagai dokumen persyaratan sebelum proses verifikasi oleh tim pusat dilakukan.
Dalam kesempatannya, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah, menyebutkan bahwa tahapan verifikasi administrasi sedang berjalan dan ditargetkan rampung sebelum batas waktu akhir Maret 2026.
“Sekarang ini kami sedang melakukan verifikasi dokumen. Ada beberapa poin yang masih perlu dilengkapi, seperti kebutuhan surat keputusan (SK) desa budaya, SK cagar budaya, peta deliniasi kawasan dan beberapa dokumen pendukung lainnya,” ungkapnya.
Ia mengatakan pemerintah daerah masih memiliki waktu sekitar satu bulan untuk memastikan seluruh dokumen tersebut terpenuhi sebelum memasuki tahapan berikutnya.
“Dokumen itu akan ditutup sampai akhir Maret. Jadi kami punya waktu sekitar sebulan untuk melengkapi semua kekurangan,” ujarnya.
Lanjutnya, setelah tahap administrasi selesai, proses selanjutnya adalah verifikasi lapangan oleh tim dari pemerintah pusat. Tahapan ini dijadwalkan berlangsung antara April hingga Juli 2026, dengan waktu kunjungan yang dapat ditentukan oleh pemerintah daerah.
“Nanti kita menentukan kapan ingin dilakukan verifikasi lapangan dan dokumen. Tim dari pusat akan datang langsung melihat kondisi di lapangan, memastikan apakah kawasan ini memang layak diajukan sebagai geopark nasional,” katanya.
Ia menyebut, kesempatan yang diberikan tahun ini dinilai sangat strategis bagi kawasan Sangkulirang–Mangkalihat. Pasalnya, dari sejumlah daerah yang mengajukan geopark nasional, tahun ini hanya kawasan tersebut yang memperoleh kesempatan untuk diverifikasi.
“Alhamdulillah, sebenarnya banyak daerah yang juga mengajukan geopark nasional. Tetapi tahun ini yang diberi kesempatan hanya Sangkulirang–Mangkalihat. Ini peluang yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin,” bebernya.
Diakuinya juga, kawasan Sangkulirang–Mangkalihat sendiri merupakan bentang alam karst yang membentang di dua wilayah, yakni Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur. Karena itu, pengajuan geopark dilakukan secara bersama dengan koordinasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Dijelaskan, Kabupaten Berau memiliki sedikitnya 15 geosite utama yang tersebar di berbagai lokasi. Bahkan jumlah titik geosite yang teridentifikasi sebenarnya jauh lebih banyak.
“Kalau secara keseluruhan sebenarnya ada sekitar 20 sampai 29 titik. Tetapi yang masuk dalam geosite utama ada 15. Sebagian di antaranya sudah menjadi destinasi wisata,” ucapnya.
Beberapa lokasi yang masuk dalam geosite tersebut antara lain Danau Kakaban, Labuan Cermin, Goa Bloyot, hingga kawasan Tanjung Sinondo. Masing-masing memiliki karakter geologi dan keunikan yang berbeda.
Salah satu yang menjadi perhatian para peneliti adalah lukisan telapak tangan prasejarah di Goa Bloyot yang diperkirakan berusia sekitar 40 ribu tahun.
“Ini bukti keberadaan manusia purba yang luar biasa. Tidak semua geopark punya kekayaan seperti itu,” jelasnya.
Selain itu, Danau Kakaban juga dikenal dengan keberadaan ubur-ubur tidak menyengat yang menjadi fenomena langka di dunia. Keunikan lainnya juga terdapat pada bentang karst kerucut di kawasan Merabu yang disebut para ahli sebagai salah satu formasi karst langka.
“Karst kerucut itu sangat jarang. Bentuknya seperti botol dan itu tidak banyak ditemukan di dunia. Ini salah satu kekuatan kita,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai memperkuat branding geopark kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan melalui media sosial, pemasangan papan informasi di lokasi geosite hingga pengembangan produk cendera mata dengan identitas geopark.
“Kami juga menyiapkan sekretariat geopark sebagai pusat informasi. Termasuk menyiapkan berbagai produk oleh-oleh yang berlogo geopark,” ujarnya.
Upaya edukasi juga mulai menyasar kalangan pelajar. Disbudpar Berau berencana menunjuk sekolah Adiwiyata sebagai percontohan untuk mengenalkan konsep geopark kepada generasi muda.
Menariknya, program tersebut akan menyasar siswa tingkat SMP yang nantinya diharapkan menjadi “Geopark Ranger”.
“Kenapa SMP? Karena mereka masih cukup lama berada di daerah ini untuk menyelesaikan pendidikan. Jadi bisa menjadi duta geopark yang menyebarkan informasi ke teman-temannya,” terang Samsiah.
Para siswa nantinya tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga akan diajak langsung mengunjungi lokasi geosite serta memahami pentingnya menjaga kawasan karst dan lingkungan.
“Kami juga sedang menyiapkan buku saku panduan untuk ranger muda ini,” tambahnya.
Dalam waktu dekat, pemerintah daerah juga akan menggelar rapat koordinasi bersama seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang terlibat dalam persiapan geopark. Pertemuan tersebut akan dipimpin oleh Sekretaris Kabupaten Berau untuk membagi tugas masing-masing instansi.
“Jadi nanti jelas siapa mengerjakan apa untuk menghadapi verifikasi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perjuangan menuju geopark nasional bukanlah proses singkat. Persiapannya telah berjalan selama beberapa tahun, meskipun pengajuan resmi baru dilakukan pada awal 2025.
“Tahun ini akan menjadi penentuan. Setelah verifikasi akhir nanti, kita akan tahu apakah Sangkulirang–Mangkalihat bisa ditetapkan sebagai geopark nasional,” ujarnya.
Ia berharap upaya tersebut dapat berhasil sehingga kawasan ini tidak hanya diakui secara nasional, tetapi juga berpeluang menjadi Global Geopark UNESCO di masa mendatang.
“Kalau sudah menjadi geopark nasional, peluang menuju global geopark terbuka. Ini tentu akan menarik wisatawan mancanegara sekaligus mendorong pariwisata yang berkelanjutan,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





