TANGERANG, PORTALBERAU– Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Badko HMI Kaltimtara) menegaskan keseriusannya untuk menjadi tuan rumah Kongres HMI ke-33. Komitmen tersebut disampaikan dalam forum Pleno II Pengurus Besar HMI yang digelar pada 12–15 Februari 2026 di Diklat KhitriBhakti Pemda Kabupaten Tangerang, Banten.
Ketua Badko HMI Kaltimtara, Ahsan Putra, menyatakan bahwa kesiapan tersebut lahir dari proses panjang konsolidasi organisasi serta komunikasi intensif dengan berbagai elemen strategis di daerah. Menurutnya, pencalonan Kaltimtara bukan sekadar simbolik, melainkan didasarkan pada kesiapan riil di lapangan.
“Kami tidak datang dengan wacana kosong. Kesiapan ini telah kami bangun melalui konsolidasi internal dan koordinasi lintas sektor. Kami siap menjadi tuan rumah Kongres HMI ke-33,” ujar Ahsan dalam keterangannya, Sabtu (15/2/26).
Ia menambahkan, dukungan dari Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, semakin memperkuat optimisme Kaltimtara. Dukungan tersebut dinilai sebagai bentuk kepercayaan pemerintah daerah terhadap kapasitas kader HMI di wilayah tersebut.
“Support dari Gubernur menjadi dorongan moral sekaligus legitimasi bahwa Kaltimtara mampu menghadirkan kongres yang tertib, demokratis, dan berintegritas,” tegasnya.
Dari sisi teknis, Badko HMI Kaltimtara mengklaim telah menyiapkan berbagai aspek pendukung, mulai dari infrastruktur, akomodasi peserta, sistem pengamanan, hingga desain pelaksanaan yang tetap berlandaskan konstitusi organisasi.
“Seluruh perangkat pendukung akan kami maksimalkan demi menjamin kelancaran agenda nasional ini,” kata Ahsan.
Sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur dinilai memiliki keunggulan strategis. Stabilitas wilayah, aksesibilitas, serta dukungan multipihak menjadi modal penting dalam menyukseskan perhelatan nasional tersebut.
“Secara geopolitik dan pembangunan, posisi kami sangat strategis. Ini menjadi nilai tambah bagi Kaltimtara,” kuncinya.
Badko HMI Kaltimtara menargetkan Kongres HMI ke-33 tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum konsolidasi kader serta penguatan peran organisasi dalam merespons dinamika kebangsaan. (*)




