TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau mulai menjajaki pengembangan kebun bibit rumput laut melalui kemitraan dengan pihak ketiga. Langkah ini dilakukan untuk menjamin ketersediaan bibit sekaligus mendorong kebangkitan budi daya rumput laut sebagai komoditas unggulan masyarakat pesisir.
Pengembangan kebun bibit tersebut menjadi salah satu tindak lanjut dari pelatihan teknis budi daya rumput laut yang diikuti lima pembudi daya dan satu pendamping di Jepara pada awal September 2026.
Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih, mengatakan pelatihan tersebut memberikan tambahan pengetahuan teknis yang diharapkan dapat diterapkan dalam pengembangan budi daya rumput laut di Berau, khususnya di Kampung Karangan, Kecamatan Biatan, yang saat ini menjadi fokus pengembangan.
“Dari hasil pembelajaran tersebut, kita berharap ke depannya dapat membuat semacam kebun bibit untuk rumput laut,” ungkapnya.
Menurut Yunda, keberadaan kebun bibit diharapkan mampu menjaga ketersediaan bahan tanam bagi pembudi daya. Dengan pasokan bibit yang lebih terjamin, pengembangan usaha dapat dilakukan secara lebih terencana dan berkelanjutan.
Meski demikian, realisasi rencana tersebut masih membutuhkan dukungan berbagai pihak. Salah satu upaya yang akan ditempuh Diskan Berau adalah menjajaki kemitraan dengan pihak ketiga untuk membantu penyediaan fasilitas maupun pengembangan kebun bibit.
“Ke depan kita perlu mencari mitra kerja yang dapat membantu memfasilitasi terwujudnya kebun bibit rumput laut tersebut,” katanya.
Yunda menjelaskan, selain ketersediaan bibit, kondisi perairan juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan budi daya. Untuk sementara, pengembangan masih dipusatkan di Kampung Karangan. Sementara itu, kawasan pesisir lainnya berpeluang dikembangkan apabila memiliki kondisi geografis dan perairan yang sesuai.
Potensi rumput laut di Berau sendiri bukan hal baru. Pada era 2000-an, budi daya komoditas ini pernah berkembang di sejumlah kawasan, mulai dari Ulingan hingga Pulau Maratua, dengan hasil panen yang cukup melimpah.
Namun, aktivitas tersebut akhirnya terhenti akibat gangguan predator alami, yakni penyu yang memakan rumput laut yang dibudidayakan.
“Dulu sempat gagal karena rumput laut ini dimakan penyu. Semoga untuk pengembangan yang sekarang bisa terhindar dari predator tersebut dan kita dapat menemukan cara pencegahannya,” bebernya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi pengembangan kembali budi daya rumput laut di Berau. Menurut Yunda, upaya meningkatkan kapasitas pembudi daya dan menjamin ketersediaan bibit perlu diiringi langkah antisipasi terhadap berbagai gangguan di kawasan budi daya.
Dengan demikian, pengembangan komoditas ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga keberlangsungan usaha pembudi daya dalam jangka panjang.
Diskan Berau berharap pembinaan dan penjajakan kemitraan yang dilakukan dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan budi daya rumput laut secara berkelanjutan. Jika berbagai kendala dapat diatasi, komoditas tersebut berpotensi memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat pesisir sekaligus memperkuat sektor perikanan daerah.
“Jika berbagai kendala dapat diatasi, komoditas ini berpeluang memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat pesisir sekaligus memperkuat sektor perikanan daerah kita,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Dedy Warseto





