TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Upaya menghidupkan kembali potensi lahan persawahan terus dilakukan petani di Kampung Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung.
Meski memasuki musim kemarau, sekitar 20 hektare sawah di kawasan Kampung Perangat masih mampu menghasilkan panen.
Panen tersebut ditandai dengan syukuran bersama petani yang turut dihadiri Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk menjaga semangat petani agar kembali menanam setelah masa panen berakhir.
Ditemui di ruang kerjanya, Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengatakan kegiatan tersebut sebenarnya merupakan undangan dari kelompok petani yang ingin membangkitkan kembali aktivitas pertanian di kawasan tersebut.
Menurutnya, kawasan Tanjung Perangat sebelumnya memiliki potensi lahan persawahan hingga sekitar 50 hektare. Namun, sebagian lahan mulai ditinggalkan karena petani beralih ke kegiatan lain.
“Petani yang mengundang kami. Mereka ingin menghidupkan kembali semangat bertanam di sana. Sebenarnya potensinya sekitar 50 hektare, tetapi sekarang yang masih digarap sekitar 20 hektare,” ungkap Lita, Kamis (1/10/2026).
Ia menjelaskan, keberhasilan panen pada musim gadu tidak terlepas dari kondisi lahan yang berada di kawasan pasang surut sungai. Ketersediaan air tersebut membuat tanaman tetap memperoleh pasokan air meski berada pada periode yang relatif kering.
“Yang 20 hektare itu berada di pinggir sungai dan memanfaatkan pasang surut. Jadi air masih tersedia dari masa tanam sampai panen,” jelasnya.
Musim gadu sendiri merupakan periode tanam yang berlangsung sekitar Juni hingga Agustus. Setelahnya, petani sebenarnya dapat kembali memasuki musim tanam berikutnya atau musim rendengan yang umumnya berlangsung sekitar Oktober hingga Desember.
Namun, kondisi cuaca menjadi salah satu pertimbangan petani untuk menentukan waktu tanam berikutnya. DTPHP Berau berharap hujan segera turun sehingga petani dapat kembali mengolah lahan dan melanjutkan penanaman.
“Harapannya setelah panen ini petani tetap semangat untuk tanam lagi. Kalau kondisi hujan sudah memungkinkan, bisa masuk tanam berikutnya sekitar Oktober sampai Desember,” katanya.
Dalam syukuran tersebut, panen secara simbolis dilakukan pada sekitar dua hektare lahan. Dari hasil ubinan, produktivitas sementara mencapai sekitar 3,5 ton gabah kering panen per hektare.
Angka tersebut dinilai cukup baik mengingat tanaman berada pada musim yang relatif kering. Terlebih, varietas padi yang digunakan merupakan jenis Cibatu yang baru pertama kali diuji tanam di kawasan tersebut.
“Cibatu ini baru pertama kali ditanam di sana. Hasil ubinannya cukup bagus, apalagi ditanam pada musim kemarau dan masih bisa berproduksi,” ungkap Lita.
Ia menyebut, umur tanaman sejak tanam hingga panen berkisar tiga bulan atau sekitar 110 hari. Produktivitas 3–4 ton per hektare dinilai sudah cukup baik untuk kondisi pertanian di Berau.
“Kalau di Berau, produksi tiga sampai empat ton per hektare itu sudah bagus. Kondisi tanah kita tentu berbeda dengan di Jawa. Jadi hasil sekitar 3,5 ton per hektare ini cukup menggembirakan,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Dedy Warseto




