TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau tak hanya menyisakan persoalan kabut asap dan penurunan kualitas lingkungan. Ancaman yang sama juga berpotensi mengganggu keberlangsungan pelayanan air minum bagi puluhan ribu masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), khususnya Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), pemantauan terhadap sejumlah isu yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat terus dilakukan.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian ialah pelayanan air bersih. Tim IKP Diskominfo Berau menggali informasi dari Perumda Air Minum Batiwakkal terkait kesiapan perusahaan menjaga operasional di tengah berbagai tantangan, termasuk ancaman karhutla dan persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
Hal ini cukup krusial mengingat cakupan pelayanan Perumda Batiwakkal tergolong besar. Berdasarkan data pada portal resmi perusahaan, jumlah pelanggan Perumda Air Minum Batiwakkal telah mencapai sekitar 43.530 sambungan pada 2026.
Dengan cakupan tersebut, keberlangsungan pelayanan tidak hanya bergantung pada proses produksi. Kondisi sumber air baku, lingkungan di sekitar sumber air, jaringan distribusi hingga dukungan operasional menjadi mata rantai yang harus tetap terjaga.
Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal Kabupaten Berau, Saipul Rahman, menilai ancaman karhutla perlu dilihat lebih luas karena dampaknya dapat menjalar hingga sektor pelayanan dasar.
“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kondisi sumber air,” ujar Saipul.
Menurutnya, keberadaan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kontinuitas pelayanan kepada pelanggan. Karena itu, kondisi lingkungan di sekitar sumber air perlu mendapat perhatian dan perlindungan bersama.
Perumda Batiwakkal, lanjut Saipul, terus melakukan berbagai langkah untuk mempertahankan kualitas sekaligus kontinuitas pelayanan. Antisipasi terhadap kondisi yang berpotensi menghambat operasional juga menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kebutuhan air masyarakat.
Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan sendiri. Peran masyarakat dinilai sangat penting, khususnya dalam mencegah aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
“Kami mengajak masyarakat bersama-sama mencegah kebakaran dan menjaga lingkungan,” katanya.
Saipul menegaskan, pencegahan karhutla pada akhirnya berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat. Sebab, kerusakan lingkungan dan terganggunya sumber air dapat memberikan dampak berantai terhadap pelayanan air minum.
Dirinya menambahkan, dengan jumlah pelanggan yang mencapai puluhan ribu sambungan, Perumda Batiwakkal menjadi salah satu sektor pelayanan publik yang harus dijaga keberlangsungannya. Sinergi antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan kebutuhan dasar tersebut tetap terpenuhi.
“Kalau sumber air dan lingkungan kita jaga, pelayanan kepada masyarakat juga bisa terus berjalan dengan baik,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





