TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mulai menggagas langkah baru untuk mengangkat kopi lokal sebagai bagian dari identitas destinasi wisata.
Tak hanya melalui festival, kopi bahkan diharapkan menjadi sajian khas yang menyambut setiap wisatawan yang datang ke Bumi Batiwakkal.
Dalam kesempatannya, Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa, menilai potensi kopi lokal perlu dipadukan dengan sektor pariwisata agar mampu memberikan nilai tambah bagi pelaku ekonomi kreatif sekaligus memperkuat daya tarik destinasi.
Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak bisa lagi berjalan sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan sektor ekonomi kreatif agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.
“Kami melihat di beberapa daerah, ekonomi kreatif sudah dipadukan dengan pariwisata. Berau juga harus mengarah ke sana, sehingga wisatawan bukan hanya menikmati destinasi, tetapi juga mengenal produk-produk lokal yang kita miliki,” ujarnya.
Salah satu peluang yang dinilai sangat potensial adalah pemanfaatan rest area yang berada di jalur strategis menuju kawasan wisata. Lokasi tersebut menjadi titik singgah wisatawan, khususnya yang melakukan perjalanan darat dari Kalimantan Utara menuju Berau.
Yudha mengatakan, kawasan itu tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat beristirahat. Ke depan, rest area diharapkan berkembang menjadi ruang promosi produk lokal, termasuk kopi khas Berau.
“Lokasinya sangat strategis karena wisatawan yang datang melalui jalur darat hampir pasti melewati kawasan ini. Kita ingin mereka mengenal Berau lebih dekat melalui produk-produk lokal yang ditampilkan di sana,” katanya.
Lebih jauh, Disbudpar juga tengah menggagas penyelenggaraan Festival Kopi Berau yang akan melibatkan seluruh pelaku usaha kopi, mulai dari kedai hingga penjual kopi keliling.
Menurut Yudha, menjamurnya usaha kopi dengan berbagai konsep dan cita rasa menjadi peluang besar untuk menghadirkan sebuah event yang mampu menarik perhatian masyarakat sekaligus wisatawan.
“Kami ingin membuat festival kopi. Semua pelaku usaha kopi bisa ikut berpartisipasi, menyajikan produk terbaik mereka, sementara masyarakat dapat datang untuk mencicipi berbagai varian kopi dalam satu tempat. Ini sekaligus menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha lokal,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, ia juga mengusulkan agar kopi lokal mulai dijadikan minuman resmi pada berbagai kegiatan pemerintahan maupun penyambutan tamu. Langkah tersebut diyakini mampu memperluas pasar sekaligus memperkenalkan cita rasa kopi Berau kepada lebih banyak orang.
Selain itu, kopi khas Berau juga diharapkan dapat tersedia di ruang tunggu Bandara Kalimarau maupun dermaga penyeberangan menuju destinasi wisata seperti Derawan dan Maratua.
“Bayangkan ketika wisatawan menunggu keberangkatan menuju Derawan atau Maratua, mereka disuguhi secangkir kopi khas Berau. Pengalaman sederhana seperti itu bisa menjadi kesan pertama yang mereka ingat dari daerah ini,” tuturnya.
Yudha menambahkan, pengembangan sektor kopi tidak cukup hanya mengandalkan promosi. Peningkatan produksi dan kualitas juga harus berjalan beriringan melalui pendampingan kepada para petani.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, Dinas Perkebunan, komunitas, pelaku usaha, hingga lembaga pendamping terus diperkuat agar pengembangan kopi Berau berlangsung secara berkelanjutan.
“Kalau produksi terus meningkat dan kualitasnya terjaga, maka sektor pariwisata siap menjadi etalase untuk memperkenalkan kopi Berau kepada wisatawan. Harapannya, kopi tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata yang membedakan Berau dengan daerah lain,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





