TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Potensi pasar kakao dari Kabupaten Berau dinilai sangat besar, baik untuk kebutuhan domestik maupun pasar internasional.
Namun hingga saat ini, kapasitas produksi kakao daerah masih belum sepenuhnya mampu memenuhi tingginya permintaan, terutama untuk pasar ekspor yang membutuhkan pasokan rutin dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handini, mengungkapkan bahwa secara potensi produksi sebenarnya Berau memiliki peluang untuk memenuhi sebagian permintaan pasar luar negeri. Salah satunya permintaan tambahan sekitar 50 ton kakao dari pasar Prancis.
Menurutnya, produksi kakao Berau dalam kondisi normal berkisar antara 600 hingga 700 ton per tahun. Namun angka tersebut kerap mengalami fluktuasi akibat faktor alam yang sulit diprediksi, seperti banjir maupun kekeringan berkepanjangan.
“Hanya saja kendala kita alam, seperti banjir berkali-kali, karena kakao kalau terendam dua sampai tiga hari bisa gagal panen,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi pada tahun 2024 lalu ketika banyak kebun kakao di sejumlah wilayah Berau mengalami gagal panen akibat banjir. Dampak bencana hidrometeorologi tersebut membuat produksi kakao menurun dari potensi normalnya.
Menurut Lita, apabila kondisi cuaca stabil dan tidak terjadi bencana alam, produksi kakao Berau sebenarnya dapat kembali berada pada kisaran rata-rata tahunan.
Di sisi lain, permintaan terhadap biji kakao Berau terus meningkat. Produk kakao dari daerah ini diminati tidak hanya oleh pasar dalam negeri, tetapi juga oleh pasar luar negeri yang membutuhkan pasokan secara berkelanjutan.
“Biji kakao dari petani itu kan rebutan juga, baik dalam dan luar negeri,” ungkapnya.
“Lawan kita hanya cuaca, bisa hujan atau panas, itu saja,” ucapnya.
Untuk persoalan hama tanaman, ia memastikan masih relatif terkendali. Dinas Perkebunan terus melakukan pendampingan kepada petani, termasuk dalam hal teknik budidaya, perawatan tanaman hingga pemupukan.
“Hama masih bisa kita kendalikan, karena petani juga selektif dan kita dampingi terus,” katanya.
Lebih jauh, Lita menyebutkan bahwa permintaan dari pasar internasional sebenarnya sangat besar. Selain dari Amerika Serikat dan Prancis, salah satu pembeli dari Italia bahkan pernah mengajukan permintaan hingga 200 ton kakao dengan skema pengiriman rutin setiap dua hingga tiga bulan.
Secara keseluruhan, potensi permintaan kakao dari berbagai pasar bahkan bisa mencapai lebih dari 1.000 ton per tahun. Beberapa pembeli juga menawarkan kontrak jangka panjang yang memberikan kepastian pasar bagi petani.
Selain pasar ekspor, produksi kakao Berau juga telah memiliki jalur pemasaran di dalam negeri. Sebagian diserap oleh perusahaan seperti PT Kaltim Agro Sejahtera Sentosa (PT KASS), pengepul dari Samarinda, hingga kebutuhan yang berasal dari program pembinaan perkebunan oleh Berau Coal.
“Produksi tahunan kita itu sebenarnya sudah ada pasarnya sendiri,” jelasnya.
Meski peluang pasar terbuka lebar, pemerintah daerah saat ini masih berhati-hati untuk menerima seluruh permintaan tersebut. Peningkatan produksi menjadi fokus utama agar pasokan kakao Berau dapat lebih stabil dan berkelanjutan.
Ia menambahkan, salah satu langkah yang terus didorong adalah perluasan lahan perkebunan kakao di berbagai wilayah yang dinilai masih memiliki potensi pengembangan.
“Sehingga kita terus mendorong perluasan perkebunan kakao. Lahan sebenarnya masih ada,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




