TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah pesisir dan aliran sungai kembali menjadi perhatian DPRD Berau.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, menilai kemunculan buaya yang semakin dekat dengan permukiman warga di Kecamatan Tabalar perlu ditangani secara serius dan terkoordinasi.
Fenomena tersebut, menurutnya, tidak lagi sekadar berdampak pada citra pariwisata, tetapi sudah menyentuh aspek keselamatan masyarakat.
Dion sapaan akrabnya mengungkapkan, dirinya menerima laporan langsung adanya insiden warga yang diserang buaya saat beraktivitas di sekitar rumah.
“Ini kejadian nyata, bahkan terjadi saat warga sedang mencuci motor. Artinya, ini sudah masuk ke ruang hidup masyarakat dan harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Ia menilai, jika tidak segera ditangani, konflik manusia dan satwa berpotensi menimbulkan korban jiwa sekaligus keresahan sosial di tengah masyarakat.
Sebagai satwa yang dilindungi, keberadaan buaya memang menjadi bagian dari ekosistem alami kawasan sungai dan pesisir di Kabupaten Berau.
Namun demikian, dirinya menekankan pentingnya keseimbangan antara upaya konservasi dan perlindungan manusia.
“Statusnya memang dilindungi, tetapi ketika populasinya sudah mengancam keselamatan warga, harus ada langkah pengelolaan. Jangan sampai masyarakat merasa dibiarkan menghadapi risiko,” tegasnya.
Ia mendorong instansi teknis bersama lembaga konservasi untuk melakukan kajian populasi, pemetaan wilayah rawan, hingga kemungkinan relokasi atau penangkaran sebagai solusi jangka panjang.
Selain penanganan teknis, Dion juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait pola hidup berdampingan dengan satwa liar, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai.
Ia menyebut, langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain, Pemasangan rambu peringatan di titik rawan, sosialisasi aktivitas aman di sekitar perairan, pengawasan area yang sering menjadi jalur munculnya satwa dan pelaporan cepat jika terjadi kemunculan buaya di permukiman.
“Ini tidak bisa hanya ditangani satu pihak. Pemerintah, kampung, dan masyarakat harus bersama-sama memahami cara mencegah konflik,” katanya.
Dion juga mengingatkan, jika persoalan ini tidak segera diantisipasi, dampaknya dapat meluas ke sektor ekonomi dan pariwisata, yang selama ini menjadi salah satu kekuatan daerah.
“Keselamatan masyarakat adalah prioritas, tetapi kita juga harus menjaga agar kondisi ini tidak menimbulkan ketakutan berlebihan yang berdampak pada aktivitas ekonomi,” ucapnya.
Mewakili DPRD Berau, Dion berharap ada langkah konkret dalam waktu dekat berupa koordinasi lintas sektor, sehingga penanganan konflik manusia dan satwa liar dapat dilakukan secara terukur, tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan maupun keamanan warga. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





