SEGAH, PORTALBERAU – Persoalan infrastruktur dasar masih menjadi isu utama dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Segah yang digelar di Lamin Adat Pelencau Apui, Kampung Tepian Buah, Senin (9/2/2026).
Forum tahunan ini menjadi wadah bagi kampung-kampung di Segah untuk menyampaikan aspirasi pembangunan, yang sebagian besar berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup masyarakat.
Hasil Musrenbang menunjukkan tingginya jumlah usulan dari kampung-kampung di wilayah pedalaman. Untuk jumlah usulan terdapat 313 usulan yang menjadi permasalahan di perkampungan yang ada di Kecamatan Segah.
Kegiatan ini dihadiri hampir seluruh Kepala OPD, Anggota DPRD Berau, hingga Anggota DPRD Provinsi Kaltim.
Camat Segah Noor Alam menyampaikan bahwa perbaikan jalan yang dilakukan pada tahun 2025 mulai memberikan dampak positif bagi masyarakat. Namun demikian, ia menilai kondisi infrastruktur jalan masih memerlukan penanganan lanjutan, terutama pada ruas Tepian Buah–Labanan, akses menuju Siduung Indah, serta jalan ke Long Laai dan Punan Segah yang hingga kini masih rusak dan sulit dilalui.
Menurutnya, keterbatasan akses jalan tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berpengaruh pada pelayanan kesehatan, distribusi logistik, dan pembangunan fasilitas umum.
Selain itu, ia berharap rencana pembangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kecamatan Segah dapat segera direalisasikan guna memperluas akses pendidikan dan menekan angka putus sekolah.
Selain jalan, kebutuhan air bersih juga menjadi perhatian melalui rencana pengembangan jaringan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dari Labanan menuju Kampung Pandan Sari dan Bukit Makmur. Normalisasi drainase di Siduung Indah dan Gunung Sari turut diusulkan sebagai langkah antisipasi banjir dan genangan air saat musim hujan.
Bupati Berau Sri Juniarsih menegaskan bahwa pembangunan daerah harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, khususnya pemenuhan akses dasar seperti jalan, air bersih, pendidikan, dan kesehatan. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan pihak swasta, terutama perusahaan yang beroperasi di wilayah Segah.
“Keterbatasan anggaran pemerintah harus dipahami. Karena itu, kami berharap perusahaan dapat mengambil peran lebih aktif melalui program CSR maupun dana bagi hasil perkebunan sawit, terutama untuk membantu perbaikan infrastruktur yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, kontribusi tidak selalu harus dalam bentuk anggaran besar. Pemanfaatan alat berat milik perusahaan untuk meratakan jalan, misalnya, dinilai sudah sangat membantu membuka akses kampung tanpa harus menunggu proses anggaran pemerintah.
“Kami berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan ruang kelas baru serta mendorong realisasi pembangunan SMA di Kampung Bukit Makmur,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan SMA di Segah menjadi kebutuhan mendesak agar anak-anak di wilayah tersebut memiliki akses pendidikan menengah tanpa harus keluar kecamatan.
“Ini terus kami sampaikan kepada DPRD Provinsi. Harapannya, rencana pembangunan SMA ini benar-benar dapat terwujud demi masa depan anak-anak Segah,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





