BIDUK-BIDUK, PORTALBERAU – Keterbatasan pasokan listrik kembali menjadi sorotan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Biduk-biduk yang digelar pada (5/2/26) lalu.
Salah satu usulan mendesak datang dari Kampung Teluk Sumbang, yang hingga kini belum teraliri listrik PLN dan masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun hampir satu dekade lalu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kampung Teluk Sumbang, Badri Husni Setiawan, menyampaikan bahwa ketersediaan listrik dan jaringan telekomunikasi menjadi kebutuhan utama masyarakat, terutama untuk menunjang layanan pemerintahan, ekonomi, dan pengembangan wisata.
“Untuk menunjang fasilitas digital, tentu perlu penunjangnya yakni sinyal dan listrik. Persoalan jaringan ini selalu kami sampaikan setiap Musrenbang, namun hingga kini belum terealisasi,” ujarnya.
Badri menjelaskan, sumber listrik di Kampung Teluk Sumbang bukan berasal dari PLN, melainkan dari PLTS berkapasitas 400 kWh yang dibangun pada tahun 2017 melalui dana hibah luar negeri. Program tersebut merupakan kerja sama Bappenas dengan NGO PT Akuo Energi, dan mulai beroperasi pada 2018.
Pengelolaannya kemudian diserahkan kepada badan usaha milik masyarakat setempat, yakni PT Teluk Sumbang Energi, yang sebelumnya mendapat pendampingan dari PT Akuo Energi hingga tahun 2020.
“Setelah pendampingan berakhir, pengelolaan sepenuhnya bergantung pada masyarakat kampung tanpa ada lembaga yang menaungi,” jelasnya.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan listrik pun meningkat dan melebihi kapasitas PLTS yang ada. Kondisi tersebut semakin diperparah ketika cuaca tidak mendukung, sehingga listrik sama sekali tidak dapat dinikmati warga.
“Kalaupun cuaca bagus, listrik tidak menyala 24 jam. Ada jam-jam tertentu listrik padam yakni pada subuh. Bahkan saat ini PLTS sudah rusak sekitar 10 hari, sehingga aktivitas ekonomi dan pemerintahan kampung sangat terganggu,” ungkapnya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, pengelola terpaksa menggunakan bahan bakar minyak (BBM) setiap hari, yang tentu membutuhkan biaya besar. Karena itu, pihak kampung berharap PLTS Teluk Sumbang dapat berada dalam naungan Perusda Kabupaten Berau atau lembaga resmi lainnya.
“Kami juga membutuhkan tambahan baterai PLTS, karena yang ada saat ini sudah tidak mampu lagi. Selain itu, masih ada wilayah kampung yang sama sekali belum terjangkau jaringan listrik,” terangnya.
Ia menegaskan, peningkatan layanan listrik sangat penting mengingat Teluk Sumbang kini berkembang sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Berau. Hingga Desember 2025, tercatat lebih dari 13 ribu wisatawan berkunjung dengan Pendapatan Asli Desa (PAD) mencapai Rp31 juta lebih.
Sementara itu, Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) Berau, Clif Salomo Panjaitan, menyampaikan bahwa pihak PLN terus berupaya meningkatkan suplai listrik di Kecamatan Biduk-biduk.
“Kami telah beberapa kali berkomunikasi dengan pihak kecamatan. Jaringan listrik PLN dari Talisayan sedang dirangkai dan progresnya diperkirakan rampung pada triwulan II atau III tahun 2026,” jelasnya.
Namun khusus Teluk Sumbang, Clif menyebut masih ada kendala regulasi karena wilayah tersebut masih masuk Wilayah Usaha (Wilus) PT Akuo Energi.
“Jika Wilus tersebut sudah tercabut, PLN siap membantu. Apalagi Teluk Sumbang sudah masuk dalam roadmap listrik desa,” tegasnya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





