TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemerintah Kabupaten Berau tengah mematangkan pengembangan Kawasan Kota Tua Teluk Bayur sebagai destinasi wisata sejarah yang menyasar wisatawan transit dan tamu daerah. Berada hanya sekitar lima menit dari Bandara Kalimarau, kawasan ini diproyeksikan menjadi pilihan wisata singkat dengan nilai edukasi dan sejarah.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mulai melakukan penataan secara bertahap, dengan prioritas pada sejumlah titik utama seperti museum, bioskop tua, serta pembangunan gapura sebagai identitas kawasan.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, melalui stafnya Andi Nusyamsi, menyampaikan bahwa tahap awal penataan ditargetkan menunjukkan perubahan signifikan pada pertengahan Februari mendatang.
“Fokus awal kami adalah pembenahan museum di area bawah. Satu ruangan sudah selesai ditata berikut fasilitas toiletnya, sementara ruangan lain masih dalam tahap perancangan konsep,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengembangan isi museum akan melibatkan perusahaan-perusahaan batu bara yang beroperasi di Berau. Kontribusi tersebut diharapkan dapat terwujud melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) maupun dukungan lainnya.
Museum nantinya akan dibagi dalam beberapa zona tematik. Zona awal akan mengangkat sejarah awal kawasan, kemudian berlanjut ke fase modern dengan menampilkan miniatur alat berat, perlengkapan keselamatan kerja, hingga literasi sejarah yang ditunjang tata cahaya.
Sebagai pintu masuk kawasan, Gapura Kota Tua Teluk Bayur kini telah rampung dibangun. Gapura tersebut mengusung arsitektur klasik bergaya Belanda dengan dominasi warna putih, selaras dengan karakter bangunan peninggalan kolonial di sekitarnya.
“Karena kawasan ini identik dengan bekas tambang batu bara era kolonial, desain gapura kami arahkan ke gaya klasik Belanda agar selaras dengan identitas Kota Tua Teluk Bayur,” jelasnya.
Selain berfungsi sebagai penanda kawasan, gapura juga dirancang sebagai titik swafoto. Meski demikian, aspek keselamatan tetap menjadi perhatian utama mengingat posisinya berada di persimpangan jalan utama.
Tak hanya itu, Disbudpar Berau juga melakukan revitalisasi terhadap bioskop lama yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Elemen asli seperti kursi dari kayu ulin dan rangka besi tetap dipertahankan guna menjaga keaslian bangunan.
“Kami sangat selektif. Setiap bagian yang berpotensi membahayakan akan kami dokumentasikan dan konsultasikan terlebih dahulu. Prinsipnya aman, nyaman, tapi nilai sejarahnya tidak hilang,” ujarnya.
Ke depan, bioskop tersebut direncanakan menjadi ruang pemutaran film dan pertunjukan seni. Namun, masyarakat tetap dapat memanfaatkannya untuk kegiatan tertentu tanpa mengubah karakter bangunan.
Pengembangan Kota Tua Teluk Bayur mengusung konsep walking tour, yang menghubungkan gapura, bioskop, hingga museum. Rute ini nantinya berakhir di area pedestrian yang dirancang sebagai ruang publik, tempat berkumpul, dan kafe.
“Dengan jarak yang sangat dekat dari Bandara Kalimarau, kawasan ini ideal direkomendasikan bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata sejarah dalam waktu singkat,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





