TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau menetapkan sub sektor kuliner dan seni sebagai sasaran utama program pelatihan ekonomi kreatif (ekraf) tahun ini.
Penetapan tersebut dilakukan setelah penyesuaian program akibat kebijakan efisiensi anggaran, sehingga tidak seluruh sub sektor ekraf dapat difasilitasi secara bersamaan.
Dalam kesempatannya, Kepala Bidang Bina Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Berau, Nurjatiah, mengungkapkan bahwa sub sektor kuliner menjadi prioritas utama, khususnya melalui pelatihan dan sertifikasi barista kopi.
“Ada pelatihan, tapi memang terbatas. Tidak semua sub sektor ekraf bisa terakomodir karena keterbatasan anggaran dan kapasitas kegiatan,” ungkapnya.
Menurut Nurjatiah, penetapan kuliner sebagai prioritas bukan tanpa pertimbangan. Sub sektor ini dinilai sebagai salah satu unggulan talenta daerah Kabupaten Berau serta selaras dengan kebijakan pengembangan ekonomi kreatif yang telah ditetapkan pemerintah daerah.
“Kuliner itu sub sektor unggulan dalam talenta pekda Berau dan sejalan dengan kebijakan pengembangan ekraf,” jelasnya.
Selain itu, sub sektor kuliner dinilai memiliki dampak ekonomi yang cepat dan langsung dirasakan masyarakat. Jumlah pelaku usaha kuliner di Berau juga cukup banyak, dengan potensi penyerapan tenaga kerja yang besar.
“Dengan banyaknya masyarakat yang bergerak di sektor ini, intervensi melalui pelatihan dan sertifikasi diharapkan bisa berdampak luas terhadap peningkatan kualitas usaha dan pendapatan,” terangnya.
Ia menyebut, keterkaitan erat antara kuliner dan pariwisata juga menjadi pertimbangan kuat. Menurutnya juga wisatawan yang berkunjung ke Berau tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga pengalaman rasa lokal yang khas.
“Orang berkunjung ke daerah wisata bukan hanya melihat alam, tapi juga mencari pengalaman rasa lokal,” katanya.
Dari sisi kesiapan program, sub sektor kuliner dinilai lebih siap mengikuti sertifikasi karena telah memiliki skema kompetensi yang jelas, mulai dari pengolahan makanan, penjaja makanan, hingga pelayanan restoran dan kafe. Pelatihan dan sertifikasi juga diarahkan untuk meningkatkan standar mutu dan keamanan pangan.
“Aspek K3, sanitasi, higienitas, dan keamanan pangan menjadi perhatian utama. Ini untuk melindungi konsumen dan meningkatkan kepercayaan pasar, terutama di daerah tujuan pariwisata,” ujarnya.
Meski fokus pada kuliner, Disbudpar Berau tetap memberikan ruang bagi sub sektor lain. Salah satunya melalui kegiatan pengembangan seni pertunjukan, khususnya komunitas teater.
Sub sektor ini dipilih karena bersifat multidisipliner. Dalam satu pementasan teater, berbagai sub sektor ekraf dapat terlibat, mulai dari seni peran, sastra, musik, tari, tata rias dan busana, desain panggung, hingga kriya dan wastra.
“Dalam satu pementasan teater, banyak pelaku ekraf bisa bergerak dalam satu ekosistem. Dampaknya lebih luas dibandingkan seni pertunjukan tunggal,” bebernya.
Selain berdampak ekonomi, teater juga dinilai efektif sebagai media penguatan identitas lokal. Cerita rakyat, sejarah, adat, hingga kearifan lokal Berau dapat diangkat secara kreatif, bahkan menjadi sarana kritik sosial dan penyampaian isu lingkungan yang mudah diterima masyarakat.
Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, pelaku teater juga dilatih kreativitas, kerja tim, kepemimpinan, dan disiplin. Hal ini menjadikan dampaknya tidak hanya pada karya seni, tetapi juga pembentukan karakter.
“Teater relatif mudah dikembangkan karena bisa menyesuaikan dengan kondisi lokal dan berpotensi mendukung agenda event daerah melalui festival dan pementasan,” ucapnya.
Ke depan, Disbudpar Berau berharap dukungan anggaran dapat meningkat sehingga program pelatihan dan sertifikasi bisa menjangkau lebih banyak sub sektor ekonomi kreatif, sekaligus meningkatkan daya saing pelaku ekraf daerah. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





