TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Penanggulangan kebakaran di Kabupaten Berau tidak lagi sekadar berfokus pada pemadaman ketika musibah terjadi.
Pemerintah daerah kini mendorong penguatan sistem mitigasi berbasis fasilitas keselamatan dan partisipasi masyarakat agar risiko kebakaran dapat ditekan sejak dini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau mengusulkan sejumlah fasilitas strategis untuk direalisasikan pada 2026, mulai dari pemasangan jaringan hidran di kawasan padat penduduk, pengadaan fire boat and rescue, hingga pembentukan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar).
Dalam kesempatannya, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, menyebut ketiga fasilitas tersebut merupakan kebutuhan mendesak untuk melindungi permukiman darat maupun kawasan perairan.
“Ini yang harus tersedia tahun ini atau paling tidak tahun depan,” ungkapnya.
Menurut Nofian, pengadaan hidran berbasis jaringan PDAM menjadi kebutuhan utama menyusul seringnya kebakaran di kawasan padat permukiman.
Lanjutnya, keterbatasan sumber air membuat upaya pemadaman sering tidak maksimal, sehingga sebagian besar bangunan sulit diselamatkan.
“Kita memerlukan puluhan hidran jenis basah yang terkoneksi dengan PDAM sebagai sumber air,” jelasnya.
Ia menyebut, hidran diprioritaskan di wilayah padat penduduk, sarana publik, rumah ibadah, fasilitas pendidikan dan kesehatan, pusat ekonomi seperti pasar dan perbankan, serta area perkantoran pemerintahan.
Selain infrastruktur, BPBD juga mendorong pembentukan Redkar sebagai penguatan lini terdepan masyarakat dalam penanggulangan kebakaran. Hingga kini, lebih dari 250 warga dari seluruh kecamatan telah mendaftar.
Relawan nantinya dibagi ke dalam tiga regu, yaitu regu pemadaman dan penyelamatan, regu penyuluh, serta regu komunikasi dan informasi.
“Redkar menumbuhkan jiwa sosial dan gotong royong, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga keselamatan bersama,” terangnya.
Meski tanpa honor, para relawan akan dibekali pelatihan, alat pelindung diri, serta sarana pendukung yang disiapkan pemerintah.
Dirinya juga mengaku, fasilitas lain yang dinilai mendesak adalah fire boat and rescue. Armada ini dibutuhkan untuk penanganan kebakaran di kawasan bantaran Sungai Segah dan Kelay, termasuk wilayah yang kerap terdampak seperti Jalan Milono.
Selain pemadaman, fire boat juga dapat digunakan untuk penyelamatan dan evakuasi di area perairan.
“Setidaknya dibutuhkan dua unit untuk memaksimalkan pemadaman dan pencegahan,” kata Nofian.
BPBD Berau berharap seluruh usulan tersebut dapat terealisasi agar penanganan kebakaran tidak hanya cepat saat kejadian, tetapi juga mampu mencegah kerugian besar sebelum api membesar.
“Fasilitas ini akan memaksimalkan pemadaman sekaligus meminimalkan dampak kebakaran,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





