TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Berau, Iswahyudi, kembali menegaskan bahwa upaya penurunan angka kemiskinan tidak bisa dilakukan secara instan.
Menurutnya, bantuan sosial (bansos) hanyalah pintu masuk untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat miskin terpenuhi, namun kemandirian ekonomi hanya dapat dicapai melalui proses pendampingan yang berkelanjutan.
“Untuk lulus dari kemiskinan itu prosesnya panjang sekali. Bansos memang salah satu pintu masuk, tetapi harus diikuti dengan pemberdayaan secara terus-menerus,” ungkapnya.
Ia menegaskan, tidak mungkin seseorang tiba-tiba keluar dari kemiskinan hanya karena menerima bantuan makanan. Pada kenyataannya, sebagian besar penerima masih berada pada kategori miskin meskipun terdapat beberapa warga yang berhasil beralih status menjadi tidak miskin.
“Tidak bisa tiba-tiba seseorang sejahtera hanya karena dapat bantuan makanan. Kalau mau benar-benar keluar dari kemiskinan, harus melalui pembinaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Iswahyudi menyebut, dinamika perubahan status penerima bansos terus terjadi. Ada warga yang perlahan naik kelas menjadi tidak miskin, namun tidak sedikit pula yang tetap bertahan pada kategori miskin akibat berbagai faktor sosial dan ekonomi.
Karena itu, intervensi yang tepat dan berkesinambungan menjadi kunci untuk menurunkan angka kemiskinan di Berau.
Selain itu, ia menilai peran masyarakat sangat penting dalam memastikan ketepatan data penerima bansos. Ketidaksesuaian data masih ditemukan, baik warga mampu yang tercatat sebagai penerima maupun warga miskin yang justru tidak terdata.
Ia menyebut, masyarakat dapat melaporkan temuan tersebut melalui website Cek Bansos atau melalui kantor kampung/kelurahan.
“Kalau ada orang yang sudah mampu tapi masih terdaftar sebagai penerima, bisa diusulkan untuk dicoret. Sebaliknya, kalau ada orang miskin yang tidak dapat bantuan, itu yang paling saya fokuskan,” ucapnya.
“Jangan sampai ada warga miskin yang tidak menerima karena kesalahan pendataan. Itu harus kita evaluasi,” sambungnya.
Untuk meminimalkan kesalahan tersebut, Dinsos Berau terus memperkuat koordinasi dengan ketua RT sebagai pihak yang paling mengetahui kondisi riil masyarakat di lingkungan masing-masing.
Dirinya menambahkan, akurasi data sangat bergantung pada informasi yang valid dari tingkat kampung dan kelurahan.
“Kami selalu kerja sama dengan RT karena yang menentukan dan mengetahui kondisi warga miskin adalah mereka di lapangan. Informasi dari RT sangat penting agar penyaluran bansos lebih tepat sasaran,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





