SANGATTA, PORTALBERAU – Rencana pengembangan Bandara Tanjung Bara kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Proyek ini dipandang sebagai salah satu langkah yang mampu memangkas hambatan mobilitas yang selama ini dikeluhkan pelaku usaha.
Pemerintah menilai peningkatan akses transportasi udara akan menjadi pemicu utama percepatan ekonomi daerah.
Dorongan untuk memperbesar kapasitas bandara bukan hanya terkait kebutuhan konektivitas masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperluas pintu masuk bagi investor baru.
Pemkab Kutim melihat bahwa tanpa dukungan infrastruktur udara yang memadai, banyak peluang investasi yang sulit terealisasi.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa upaya memperpanjang dan melebarkan runway sedang digodok bersama oleh sejumlah pihak terkait.
“Salah satu langkah yang sedang kita siapkan untuk memperkuat daya tarik investasi adalah pengembangan runway Bandara Tanjung Bara. Saat ini kajiannya masih berjalan,” ujarnya.
Selain pembahasan teknis, pemerintah juga menyoroti pentingnya mempercepat keputusan final agar proses pembangunan dapat dimulai tanpa hambatan administrasi.
Harapannya, pembangunan landasan yang lebih panjang dapat diselesaikan sebelum pergantian tahun anggaran.
Di sisi lain, banyak investor dikabarkan menahan keputusan mereka untuk masuk ke Kutim karena sulitnya akses dari kota besar ke Sangatta.
Perjalanan darat yang bisa menembus 6 hingga 9 jam sering dianggap tidak efisien bagi pelaku usaha yang membutuhkan mobilitas cepat.
Pemerintah daerah pun menilai bahwa penerbangan komersial Kutim–Balikpapan akan menjadi terobosan baru.
Rute tersebut dianggap sangat penting untuk memangkas waktu tempuh sekaligus membuka ruang pergerakan ekonomi yang lebih agresif.
Koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan perusahaan pengelola, termasuk PT Kaltim Prima Coal (KPC), disebut telah mencapai tahap sinkronisasi teknis.
Beberapa arahan dari pusat juga sudah disiapkan untuk ditindaklanjuti oleh Pemkab Kutim melalui Dinas Perhubungan.
Pada rapat koordinasi sebelumnya, Ardiansyah mengungkapkan keyakinannya bahwa akses udara yang lebih terbuka akan mengubah peta investasi daerah.
“Begitu konektivitas udara tersedia secara optimal, arus investasi akan meningkat dan peluang kerja baru akan terbuka lebih besar,” jelasnya.
Selaras dengan itu, Pemkab Kutim sedang menyiapkan berbagai skema percepatan operasional bandara, termasuk mekanisme penerbangan umum yang diharapkan dapat diluncurkan dalam waktu dekat.
Pemerintah menargetkan layanan penerbangan reguler dapat dimulai tahun depan.
Dengan adanya peningkatan fasilitas bandara dan terbukanya jalur penerbangan baru, pemerintah optimistis geliat ekonomi masyarakat akan semakin terasa.
Banyak pihak berharap kehadiran rute udara reguler menjadi titik balik kemajuan Kutai Timur, terutama dalam mempercepat distribusi logistik dan akses bisnis.(ADV)





