TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pemkab Berau menggelar rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah.
Rapat tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat langkah antisipasi, terutama terhadap potensi lonjakan harga dan mobilitas masyarakat di akhir tahun.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, melalui Sekretaris Daerah M Said, menegaskan bahwa konsistensi sinergi antarinstansi menjadi kunci menjaga stabilitas daerah.
Dalam kesempatannya tersebut, Sekda M Said menyebut forum tersebut sangat penting sebagai ruang merumuskan kebijakan strategis dan keputusan krusial terkait pengendalian inflasi.
“Pertemuan ini sangat penting, karena melalui forum ini kita dapat merumuskan langkah-langkah strategis dan keputusan krusial yang menentukan arah kebijakan pengendalian inflasi di daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memiliki peran besar dalam memastikan stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga. Hal ini juga ditekankan dalam rapat bersama Menteri Dalam Negeri yang dihadiri seluruh kepala daerah.
“Inflasi yang tidak terkendali akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. Karena itu TPID harus memastikan setiap tugas pokok dan fungsi berjalan optimal, disertai langkah taktis dan teknis yang tepat,” tegasnya.
Said menekankan bahwa seluruh instansi memiliki peran masing-masing, namun yang paling penting adalah sinergi agar tidak terjadi kepanikan di tengah masyarakat.
Menurutnya, stabilitas daerah harus tetap terjaga terutama menjelang hari besar keagamaan.
“Stabilitas daerah harus dijaga. Badan Kesbangpol sebagai sekretariat Forkopimda memiliki peran koordinatif bersama Bupati, Dandim, Kapolres, dan satuan lainnya,” jelasnya.
Said menyoroti bahwa menjelang Natal dan Tahun Baru, pergerakan harga barang dan jasa biasanya meningkat. Pemerintah daerah perlu mengantisipasi potensi pedagang yang memainkan stok maupun harga.
“Kita harus mewaspadai potensi permainan stok dan harga. Pengawasan dan langkah antisipatif adalah keharusan,” ungkapnya.
Sekda menyebut kondisi inflasi Berau lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, inflasi daerah menjadi perhatian nasional akibat tingginya harga transportasi dan kesehatan.
“Kita patut bersyukur inflasi kita lebih terjaga. Kehadiran maskapai seperti Sriwijaya Air dan AirAsia membantu menekan harga tiket pesawat yang sebelumnya menjadi pemicu utama inflasi,” bebernya.
Selain itu, perbaikan layanan kesehatan secara bertahap juga menurunkan beban inflasi di sektor tersebut.
Ia menyebut, Pemkab Berau juga menghadapi tantangan baru berupa pengurangan dana transfer dari pusat yang mencapai sekitar Rp800 miliar. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya kegiatan seremonial maupun pengadaan barang dan jasa.
“Pengurangan dana transfer berimplikasi pada terbatasnya program dan kegiatan yang bersentuhan dengan masyarakat,” jelasnya.
Meski begitu, pemerintah tetap menyiapkan langkah untuk menjaga daya beli masyarakat, salah satunya dengan mempertahankan TPP ASN tanpa pemotongan.
“TPP tidak dipotong agar daya beli ASN tetap kuat. Dengan jumlah ASN kita yang cukup besar, belanja mereka sangat berpengaruh pada pergerakan ekonomi daerah,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





