TABALAR, PORTALBERAU – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Kampung Buyung-Buyung tahun ini kembali menjadi momentum warga memperlihatkan jati diri sebagai kampung nelayan yang hidup dari laut.
Perayaan dilakukan bukan dengan seremoni formal, tetapi dengan tradisi syukuran laut dan lomba perahu dompeng yang sudah melekat dalam budaya warga.
Sebanyak 30 perahu dari berbagai daerah ikut meramaikan lomba dompeng yang menjadi agenda tahunan tersebut.
Pesertanya bukan hanya dari Berau, tetapi juga Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Kota Bontang hingga Kalimantan Utara. Warga tumpah ruah di pesisir menyambut ajang yang selalu dinanti ini.
Kepala Kampung Buyung-Buyung, Mustafa, mengatakan bahwa perayaan HUT ke-74 bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi bentuk syukur sekaligus penghormatan bagi para nelayan.
Ia menegaskan bahwa Buyung-Buyung kini bukan lagi kampung tertinggal, melainkan sudah berstatus kampung maju dan menargetkan menjadi kampung mandiri.
“Syukuran laut dan lomba dompeng ini adalah wujud apresiasi kami kepada nelayan. Tradisi ini selalu dijaga setiap tahun,” ujar Mustafa.
Dirinya merinci peserta lomba terdiri dari 5 perahu Buyung-Buyung sendiri, 3 dari Kasai, 7 dari Tabalar Muara, 1 dari Biatan, 5 dari Kukar, 2 dari PPU, 1 dari Bontang, dan 6 dari Kaltara.
Dalam momentum perayaan kampung ini, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas turut hadir memberikan dukungan. Namun, kunjungannya tetap diletakkan dalam konteks kampung fokus pada kondisi, kebutuhan, dan identitas masyarakat Buyung-Buyung sebagai komunitas nelayan.
Sri menekankan pentingnya perlindungan bagi para nelayan yang menjadi tulang punggung kampung pesisir.
Ia mengatakan bahwa pemerintah daerah telah memastikan peserta lomba dan nelayan di Tabalar dibekali BPJS sebagai perlindungan keselamatan dan kesehatan.
“Lomba perahu ini bukan sekadar hiburan, tapi bentuk syukur dan cara kita merawat budaya serta laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat,” kata Sri.
Ia menegaskan bahwa kampung nelayan seperti Buyung-Buyung harus mendapatkan dukungan penuh, baik dalam keselamatan kerja, penguatan sumber daya manusia hingga pemasaran hasil laut.
Dengan hasil laut yang melimpah dan produksi beras yang kuat, Buyung-Buyung dinilai memiliki modal besar menuju kampung mandiri.
Ia menyebut, Buyung-Buyung dikenal memiliki potensi lengkap produksi beras lokal, hasil laut yang kaya, serta kawasan mangrove yang menjadi daya tarik wisata alam.
Sri menyampaikan bahwa keberadaan mangrove tidak hanya melindungi kampung dari bencana, tetapi juga menjadi sumber ekonomi melalui dana karbon yang mencapai Rp349 juta per kampung, termasuk Buyung-Buyung.
“Sumber daya ini harus dijaga. Laut dan mangrove adalah penghidupan, bukan hanya pemandangan,” kuncinya. (Adv)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





