TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau merilis perkembangan inflasi terbaru untuk periode Oktober 2025. Berdasarkan hasil pemantauan harga di berbagai komoditas, tercatat inflasi year on year (y-on-y) Kabupaten Berau berada di angka 1,78 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,23.
Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya sejumlah kelompok pengeluaran yang mendorong kenaikan harga secara umum.
Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudin, menjelaskan bahwa inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan beberapa kelompok pengeluaran dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 9,48 persen.
“Kelompok ini menjadi penyumbang kenaikan tertinggi pada Oktober 2025. Kebutuhan perawatan pribadi mengalami peningkatan permintaan, sehingga harga beberapa komoditas bergerak naik,” ujarnya.
Selain kelompok tersebut, kenaikan signifikan juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,63 persen, serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,22 persen.
Menurut Yudi, pola konsumsi masyarakat yang meningkat serta fluktuasi harga bahan baku turut memberi andil pada kenaikan harga di kelompok-kelompok tersebut.
“Pada kelompok kesehatan juga terjadi kenaikan 2,48 persen, sementara kelompok pakaian dan alas kaki naik 0,76 persen.
Bahkan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga turut mengalami kenaikan meski relatif rendah, yakni 0,33 persen,” jelasnya.
Meski begitu, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks, sehingga menahan laju inflasi agar tidak melonjak lebih tinggi.
Kelompok transportasi tercatat turun paling dalam sebesar 1,91 persen, disusul kelompok rekreasi, olahraga dan budaya yang turun 1,29 persen.
Sementara informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,19 persen, serta kelompok pendidikan yang turun tipis sebesar 0,03 persen.
Di sisi lain, inflasi month to month (m-to-m) atau inflasi bulanan pada Oktober 2025 mencapai 0,53 persen, sementara inflasi year to date (y-to-d), yakni akumulasi sejak Januari hingga Oktober, tercatat sebesar 1,84 persen.
“Kalau dilihat secara month to month dengan 0,53 persen, posisi Berau termasuk yang tertinggi. Namun secara year on year, kita justru berada di kelompok terendah dibandingkan daerah lain,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan inflasi di Berau masih berada dalam kategori terkendali dan tidak mengkhawatirkan.
Yudi menambahkan bahwa BPS akan terus memantau pergerakan harga komoditas strategis guna memastikan stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga.
“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) juga dapat menggunakan data inflasi ini sebagai dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran, terutama dalam menjaga pasokan dan distribusi barang kebutuhan pokok,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhamamd Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





