TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Aktivitas penangkapan ikan menggunakan bom kembali marak terjadi di wilayah perairan Kabupaten Berau. Praktik ilegal yang merusak ekosistem laut ini mendapat perhatian serius dari Dinas Perikanan Berau.
Plt Kepala Dinas Perikanan Berau, Maulidiyah, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Pengawasan dilakukan secara rutin melalui tim khusus yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan kelompok nelayan di sekitar wilayah pengawasan.
“Terkait bom ikan, kami sudah ada tim yang melakukan pengawasan. Setiap bulan biasanya ada tiga sampai empat kali patroli,” ungkapnya.
Ia menyebutkan bahwa patroli dilakukan pada kawasan perairan 0–12 mil, sesuai dengan kewenangan kabupaten.
Dalam kegiatan tersebut, lanjutnya, petugas tidak hanya mengandalkan kapal patroli resmi, tetapi juga memanfaatkan jaringan nelayan untuk memantau aktivitas mencurigakan di perairan.
“Kami tidak selalu menggunakan kapal pengawasan. Ada kalanya kami memanfaatkan kapal-kapal nelayan sebagai mata dan telinga di lapangan. Informasi dari mereka seringkali lebih cepat dan akurat,” ujarnya.
Meski demikian, Maulidiyah mengakui bahwa pelaku bom ikan bukanlah pihak yang mudah ditangkap. Mereka bergerak secara cepat dan cerdik, diduga paham pola patroli yang dilakukan petugas.
“Memang dua bulan terakhir ini belum ada temuan. Pelaku biasanya sudah tahu pola pengawasan, sehingga mereka lebih dulu menghindar,” jelasnya.
Ia menyebut, Dinas Perikanan Berau mencatat, sebelumnya sempat terjadi penangkapan dua pelaku bom ikan pada Juli lalu. Namun, peristiwa tersebut rupanya tidak serta-merta membuat aksi serupa berhenti.
Karena itu, Maulidiyah mengimbau masyarakat dan nelayan untuk ikut berperan aktif dalam menjaga kelestarian laut. Pelaporan dari warga menjadi kunci penting dalam mempersempit gerak pelaku.
“Pengawasan tetap kami lakukan dan kami sangat terbuka terhadap laporan masyarakat. Kalau ada aktivitas mencurigakan, segera laporkan. Ini bukan hanya soal penegakan hukum, tapi juga menjaga sumber daya ikan untuk masa depan,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





