TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau, Arman Nofriansyah, menegaskan perlunya langkah konkret dan terintegrasi dalam menghadapi kondisi ekonomi daerah yang tengah mengalami tekanan.
Ia mendorong optimalisasi peran perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR) serta penguatan sektor pertanian berbasis kampung sebagai solusi jangka menengah dan panjang.
Menurut Arman, kontribusi perusahaan yang beroperasi di Berau harus lebih terarah dan berdampak langsung bagi masyarakat. Ia menilai masih ada sejumlah perusahaan yang belum terlibat maksimal, bahkan belum masuk dalam daftar pembahasan pemerintah daerah.
“Masih ada yang belum terabsen, seperti PLTU Lati dan Nusantara Energi. Padahal, perusahaan-perusahaan ini punya potensi besar untuk ikut membantu masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, DPRD Berau telah berkoordinasi lintas komisi dan mendapatkan dukungan dari pimpinan dewan untuk segera memanggil pihak perusahaan tersebut. Pemanggilan ini bertujuan untuk mengevaluasi serta mengarahkan program CSR agar lebih tepat sasaran.
“Kami ingin memastikan CSR itu jelas arahnya, tidak hanya formalitas, tapi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, Arman juga menyoroti peluang besar di sektor pertanian yang dinilai mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat kampung.
Ia menyebut adanya bantuan dari Kementerian Pertanian berupa pengembangan komoditas kelapa dan kakao seluas kurang lebih 200 hektare.
Program ini, kata dia, harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah kampung, mengingat potensi ekonominya yang cukup menjanjikan.
“Kelapa sekarang ini jadi komoditas unggulan. Bahkan di luar Ramadan, harga beli dari penampung bisa mencapai Rp6.000 sampai Rp7.000 per butir,” ungkapnya.
Ia mencontohkan wilayah seperti Kampung Pulau Besing yang memiliki potensi lahan untuk pengembangan kelapa dan kakao. Dengan pemanfaatan lahan yang optimal, kampung-kampung di Berau diyakini bisa membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Arman juga menyoroti jenis kelapa genjah yang dinilai sangat prospektif karena masa panennya relatif cepat, yakni sekitar tiga tahun. Selain itu, karakter pohonnya yang tidak terlalu tinggi dinilai memudahkan perawatan dan panen.
“Kalau kita tanam sekarang, insyaallah tiga tahun ke depan kampung-kampung sudah bisa mandiri. Belum lagi ada produk turunan seperti kopra dan lainnya yang juga punya nilai jual,” jelasnya.
Ia pun mengajak para kepala kampung dan pemangku kepentingan di tingkat lokal untuk tidak menyia-nyiakan peluang tersebut. Menurutnya, sinergi antara dukungan perusahaan melalui CSR dan penguatan sektor pertanian akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
“Ini peluang besar. Tinggal bagaimana kita bersama-sama memanfaatkan, agar ekonomi kampung bisa tumbuh dan tidak terus bergantung pada sektor lain,” kuncinya. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim




