TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemegang saham PT Hutan Sanggam Berau (HSB) menyetujui laporan tahunan serta pembagian dividen dari laba bersih Tahun Buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada 9 Maret 2026 di kantor PT Inhutani I, Jakarta.
Dalam rapat tersebut, para pemegang saham yang terdiri dari Pemerintah Kabupaten Berau, PT Inhutani I, dan Perusda Kehutanan Sylva Kaltim Sejahtera menyepakati sejumlah keputusan penting, termasuk pengesahan laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit secara independen.
Direktur PT Hutan Sanggam Berau, Roby Maula, menyampaikan bahwa laporan tahunan dan laporan perhitungan tahunan kegiatan usaha Tahun Buku 2025 telah diaudit oleh kantor akuntan publik dan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
“Laporan keuangan PT Hutan Sanggam Berau Tahun Buku 2025 telah diaudit dan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian. Artinya, laporan tersebut secara wajar menggambarkan posisi keuangan perusahaan per 31 Desember 2025,” ujar Roby saat menyampaikan laporan tahunan pada Kamis (12/2/26).
Berdasarkan laporan yang disahkan dalam RUPS, PT Hutan Sanggam Berau mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp6.889.752.625 pada tahun buku 2025. Dari jumlah tersebut, para pemegang saham menyetujui pembagian laba dengan komposisi 62 persen sebagai dividen dan 38 persen dialokasikan sebagai cadangan umum perusahaan.
Total dividen yang dibagikan kepada pemegang saham mencapai Rp4.271.646.628.
Pembagian dividen tersebut terdiri dari:
1. Pemerintah Kabupaten Berau (50 persen) sebesar Rp2.135.823.314
2. PT Inhutani I (30 persen) sebesar Rp1.281.493.988
3. Perusda Kehutanan Sylva Kaltim Sejahtera (20 persen) sebesar Rp854.329.326
Roby menjelaskan bahwa kinerja perusahaan pada tahun 2025 menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Capaian laba pada 2025 menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa upaya efisiensi operasional dan pengelolaan usaha kehutanan yang berkelanjutan mulai memberikan hasil positif bagi perusahaan,” katanya.
Secara kumulatif, sejak tahun 2003 hingga 2025, PT Hutan Sanggam Berau telah mencatat total laba usaha sekitar Rp34,19 miliar, dengan total dividen yang telah dibagikan kepada para pemegang saham mencapai lebih dari Rp22,17 miliar.
Meski demikian, Roby mengakui bahwa perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan ke depan, terutama terkait tekanan global terhadap harga kayu serta perubahan regulasi di sektor kehutanan.
“Memasuki tahun 2026, kami menghadapi tantangan cukup besar, mulai dari kenaikan regulasi PSDH-DR yang cukup signifikan hingga tekanan global terhadap harga kayu log yang mempengaruhi iklim usaha kehutanan,” jelasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan usaha, perusahaan juga tengah mendorong diversifikasi melalui program Multi Usaha Kehutanan (MUK) serta pengembangan berbagai potensi usaha baru.
“Kami berupaya mempercepat diversifikasi usaha agar perusahaan tidak hanya bergantung pada produksi kayu. Pengembangan MUK menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kawasan hutan,” terangnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan komoditas lain seperti jagung, kakao, dan kelapa genjah sebagai bagian dari sinergi program pembangunan daerah dengan kegiatan usaha kehutanan perusahaan.
Roby menegaskan bahwa dukungan dari seluruh pemegang saham, baik dalam bentuk teknis maupun permodalan, menjadi faktor penting dalam mendorong pengembangan usaha PT Hutan Sanggam Berau ke depan.
“Kami berharap dukungan pemegang saham terus berlanjut, sehingga berbagai rencana pengembangan usaha yang sedang berjalan dapat terealisasi secara optimal dan memberikan manfaat bagi perusahaan maupun daerah,” kuncinya. (ADV)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim




