TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemkab Berau menegaskan komitmennya dalam menjaga dan merawat warisan sejarah daerah, khususnya terhadap Keraton Gunung Tabur dan Keraton Sambaliung sebagai pusat peradaban dan identitas budaya Bumi Batiwakkal.
Sekretaris Daerah Berau, M Said, menegaskan bahwa meskipun secara regulasi tidak ada lagi status daerah dengan kekhususan pemerintahan berbasis kesultanan, pemerintah daerah tetap memberikan perhatian melalui pendekatan pelestarian budaya dan fasilitasi kegiatan adat.
“Kalau berbicara kehususan, setelah Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 itu tidak ada lagi. Namun dari sisi kebudayaan, pemerintah tetap memberikan perhatian maksimal kepada kesultanan yang ada,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, di Kalimantan Timur terdapat empat kesultanan yang diakui secara kultural, termasuk Gunung Tabur dan Sambaliung di Kabupaten Berau. Kedua kesultanan tersebut secara rutin difasilitasi pemerintah daerah dalam berbagai kegiatan pelestarian tradisi, promosi budaya, hingga dukungan operasional.
Pemkab Berau, lanjutnya, setiap tahun mengalokasikan dukungan melalui perangkat daerah, salah satunya fasilitasi kegiatan kebudayaan yang dianggarkan melalui dinas terkait.
“Setiap tahun kita alokasikan kegiatan fasilitasi, termasuk perjalanan dinas kebudayaan sekitar Rp50 juta melalui dinas pariwisata,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga telah menyerahkan pengelolaan aset kendaraan operasional kepada pihak kesultanan. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya rekomendasi hasil pemeriksaan agar status penggunaan aset menjadi hibah resmi, bukan lagi pinjam pakai.
Pada tahun ini, Pemkab Berau juga mulai melakukan rehabilitasi fisik bangunan bersejarah, khususnya di kawasan Keraton Gunung Tabur. Perbaikan difokuskan pada bagian atap dan plafon bangunan yang menjadi prioritas konservasi.
“Di Keraton Gunung Tabur tahun ini kita lakukan perbaikan atap dan plafon. Ini dilakukan bertahap sebagai bagian dari pelestarian,” tuturnya.
Tidak hanya bangunan utama, penataan kawasan penunjang juga menjadi perhatian, termasuk pembangunan pedestrian yang menghubungkan area museum dan keraton. Penataan tersebut diarahkan untuk memperkuat daya tarik wisata sejarah di wilayah perkotaan.
“Kawasan ini kita anggap sentral, sehingga perlu dibenahi. Ini bagian dari upaya memasarkan pariwisata berbasis budaya,” tambahnya.
Said menegaskan bahwa perhatian terhadap keraton bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari strategi pembangunan daerah yang mengintegrasikan sejarah, budaya, dan pariwisata.
Menurutnya, keberadaan keraton memiliki nilai penting sebagai penguat identitas lokal sekaligus daya tarik wisata yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Walaupun tidak dalam bentuk struktur pemerintahan, kesultanan tetap menjadi bagian penting dari kebudayaan daerah yang harus dijaga bersama,” tegasnya.
Said berharap sinergi antara pemerintah, lembaga adat, dan masyarakat dapat terus memperkuat pelestarian warisan sejarah, sehingga keberadaan Keraton Gunung Tabur dan Sambaliung tetap lestari sekaligus memberi manfaat bagi generasi mendatang. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





