SAMBALIUNG, PORTALBERAU– PT Berau Coal kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemandirian ekonomi kampung melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembangunan Jembatan Usaha Tani di Kampung Pegat Bukur, Kecamatan Sambaliung, yang diresmikan bersamaan dengan Gedung Sekretariat BUMK (6/2)
Community Base Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kampung Pegat Bukur atas inisiatif dan kemandirian dalam membangun Gedung Sekretariat BUMK yang bersumber dari hasil usaha BUMK dan Anggaran Kampung.
“Gedung ini merupakan bukti nyata bahwa kampung mampu mengelola dan mengembangkan potensi ekonominya secara mandiri. Kami berharap sekretariat BUMK ini menjadi pusat pengelolaan usaha kampung yang profesional, transparan, dan berkelanjutan,” ungkap Reza.
Selain itu juga, pada kesempatan yang sama, melalui Program PPM, PT Berau Coal turut berkontribusi dalam pembangunan Jembatan Usaha Tani Kampung Pegat Bukur.
Infrastruktur ini kata dia, dirancang untuk mendukung akses kelompok tani hortikultura dan pengembangan kebun kakao yang menjadi salah satu program unggulan perusahaan bersama masyarakat.

Reza menjelaskan, selama ini keterbatasan akses menjadi tantangan utama bagi aktivitas pertanian dan perkebunan warga. Kondisi jalan yang sulit dilalui kendaraan menghambat proses pengangkutan hasil kebun, sehingga berdampak pada efisiensi dan nilai ekonomi produk pertanian.
“Pembangunan jembatan dan peningkatan jalan usaha tani ini diharapkan dapat memperlancar akses petani, menekan biaya distribusi, serta meningkatkan produktivitas dan nilai jual hasil pertanian, khususnya hortikultura dan kakao,” jelasnya.
Ia mengatakan, selain infrastruktur, PT Berau Coal juga menjalankan berbagai program PPM terintegrasi di Kampung Pegat Bukur. Di antaranya pelaksanaan sekolah lapang bagi 16 petani, pembangunan kebun kakao seluas 8 hektare, pengembangan kemitraan kompos bersama BUMK Batu Bual Sejahtera, hingga pembangunan fasilitas agrowisata berupa gazebo dan toilet.
Di bidang lingkungan dan sosial, PT Berau Coal turut menyerahkan satu unit motor sampah untuk mendukung pengelolaan lingkungan kampung serta melaksanakan program penanganan stunting bagi 16 anak.
“Seluruh program ini kami rancang untuk mendorong peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan ekonomi kampung, serta peningkatan kualitas hidup warga secara berkelanjutan,” ucapnya.
Reza menambahkan, melalui kolaborasi multipihak ini, PT Berau Coal berharap fasilitas yang telah diresmikan dapat dijaga dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Sinergi yang terbangun diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kemandirian ekonomi Kampung Pegat Bukur dan peningkatan kesejahteraan warga dalam jangka panjang.
Apresiasi atas kontribusi PT Berau Coal juga disampaikan Sekretaris Daerah Berau, M Said, yang mewakili Bupati Berau. Ia menilai kehadiran perusahaan memberikan peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya infrastruktur dan pembukaan peluang usaha bagi masyarakat.
“Bantuan ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga membuka lapangan kerja dan usaha baru bagi masyarakat. Ini menjadi bagian dari legasi PT Berau Coal untuk Kabupaten Berau,” ujarnya.
Said berharap sinergi antara pemerintah daerah dan perusahaan dapat terus berlanjut, sehingga pascatambang masyarakat tetap memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Kampung Pegat Bukur, Suharyadi Kusuma, menyampaikan terima kasih atas dukungan PT Berau Coal melalui PPM pembangunan jembatan usaha tani. Menurutnya, infrastruktur tersebut sangat membantu akses menuju area pertanian, perkebunan, hingga rencana pemukiman baru.
“Manfaatnya sangat dirasakan masyarakat. Akses jadi lebih mudah dan lahan yang sebelumnya kurang produktif kini bisa dimanfaatkan,” katanya.
Hal senada disampaikan PJO BUMK Batu Bual Sejahtera, Rafli Renanda. Ia menilai pembangunan jembatan memberikan dampak signifikan bagi aktivitas pertanian warga yang mayoritas bergerak di sektor hortikultura.
“Dengan adanya jembatan ini, akses masyarakat ke kebun jadi lebih cepat. Mayoritas warga kami memang bertani, mulai dari sayuran hingga komoditas lainnya,” ucap Rafli. (ADV)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





