TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan program cetak sawah. Inisiatif ini diarahkan untuk menopang agenda swasembada pangan nasional pada 2026 sekaligus menekan ketergantungan pasokan beras dari daerah lain.
Program cetak sawah di Kaltim awalnya diusulkan mencakup lahan seluas 20 ribu hektare. Rencana tersebut dibahas dalam Dialog Publika TVRI Kaltim bertajuk “Target Cetak Sawah & Ketahanan Pangan Kaltim” yang ditayangkan pada Rabu (27/1/2026).
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur, Fahmi Himawan, mengungkapkan bahwa tidak seluruh usulan lahan dapat direalisasikan. Penyebabnya adalah penerapan kriteria lokasi yang cukup ketat sesuai dengan petunjuk teknis program cetak sawah.
“Dari hasil verifikasi bersama pemerintah kabupaten dan kota, hanya lahan tertentu yang memenuhi persyaratan untuk masuk ke tahapan Survey Investigasi dan Desain (SID),” jelas Fahmi, seperti dikutip dari kaltimprov.go.id.
Di Kabupaten Berau, seluruh usulan lahan seluas 2 ribu hektare dinyatakan layak dan dapat dilanjutkan hingga tahap SID. Sementara itu, Kabupaten Kutai Barat hanya meloloskan sekitar 800 hektare dari total usulan 11.500 hektare, lantaran sebagian besar lahan berada di kawasan perikanan.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Dari usulan sekitar 6.500 hektare, hanya kurang lebih 300 hektare yang memenuhi kriteria karena sejumlah lokasi dinilai rawan banjir.
Secara keseluruhan, hasil verifikasi menunjukkan bahwa dari total usulan awal 20 ribu hektare, hanya sekitar 3.300 hektare lahan yang dinyatakan layak untuk melanjutkan ke tahap SID.
Hal ini dibenarkan oleh Kepala DTPHP Berau, Junaidi, melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Untung Pamilih.
“Benar saat ini masih dalam tahap SID,” ujarnya kepada media ini.
Survei, Investigasi, dan Desain (SID) DTPHP merupakan tahapan vital sebelum dimulainya pembangunan infrastruktur pertanian, seperti optimasi lahan rawa atau cetak sawah baru, guna memastikan proyek tepat sasaran dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, ia berharap 2 ribu hektare cetak sawah dapat terealisasi setelah proses SID ini selesai.
“Mudah-mudahan dapat luasan sesuai yakni 2 ribu hektare,” singkatnya.
Jika hal ini terealisasi, pihaknya menambahkan eksekusi akan dilakukan pada tahun ini. Sehingga, program cetak sawah dapat segera bermanfaat menjadi salah satu upaya ketahanan pangan.
“Insya Allah 2026 begitupun dengan selesainya cetak sawah ini,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





