TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Keterbatasan ruang belajar di SDN 17 Tanjung Redeb membuat sebagian siswa masih harus menjalani kegiatan belajar mengajar pada siang hari. Kondisi ini mendorong pihak sekolah mengusulkan pembangunan gedung perpustakaan terpisah agar ruang yang ada dapat dialihfungsikan menjadi kelas.
Kepala SDN 17 Tanjung Redeb, Sunarmi, menyebutkan saat ini sekolah menampung 465 siswa yang terbagi dalam 17 rombongan belajar (rombel). Namun, keterbatasan ruang menyebabkan tiga rombel kelas 2 belum bisa mengikuti pembelajaran pada pagi hari seperti kelas lainnya.
“Masih ada tiga rombel yang masuk siang. Kami berharap ke depan semua siswa bisa belajar pagi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sekolah sebenarnya memiliki dua ruangan tambahan yang berpotensi digunakan sebagai kelas. Namun, salah satu ruangan tersebut difungsikan sebagai perpustakaan. Karena belum memiliki gedung perpustakaan permanen, ruangan itu belum bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Selama perpustakaan belum punya gedung sendiri, ruang itu tidak bisa kami alihkan. Padahal kalau sudah ada gedung perpus terpisah, ruang lama bisa dipakai untuk rombel,” jelasnya.
Atas pertimbangan keadilan, pihak sekolah memutuskan seluruh siswa kelas 2 masuk pada siang hari, meski sebagian ruangan sebenarnya memungkinkan untuk digunakan.
“Kami tidak ingin ada yang pagi dan ada yang siang di kelas yang sama tingkatannya. Jadi diputuskan semua kelas 2 masuk siang,” katanya.
Selain untuk mengatasi keterbatasan ruang kelas, pembangunan gedung perpustakaan juga dibutuhkan untuk memenuhi standar pengelolaan perpustakaan sekolah, termasuk sebagai salah satu syarat akreditasi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Berau, Mardiatul Idalisah, menyampaikan bahwa pembangunan fasilitas seperti perpustakaan dapat diusulkan langsung oleh sekolah ke pemerintah pusat melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
“Sekarang sekolah bisa mengusulkan pembangunan perpustakaan, toilet, atau rehab ringan langsung ke pusat. Untuk perpustakaan, biasanya prosesnya relatif lebih cepat jika dananya dari pusat,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa persoalan di SDN 17 Tanjung Redeb tidak hanya soal pendanaan, tetapi juga keterbatasan lahan. Menurutnya, area sekolah saat ini sudah cukup padat dengan bangunan ruang kelas, bahkan lapangan sekolah pun terbatas.
“Lahannya memang sudah sangat minim. Itu yang menjadi tantangan utama kalau mau menambah bangunan baru,” jelasnya.
Kendati demikian, Disdik Berau memastikan seluruh usulan sekolah, termasuk dari SDN 17 Tanjung Redeb, telah dicatat dan diinventarisasi. Usulan tersebut akan dipertimbangkan lebih lanjut dengan melihat ketersediaan anggaran serta kesiapan lokasi.
“Semua usulan, baik lewat musrenbang maupun jalur lainnya, sudah kami data. Tinggal menyesuaikan dengan anggaran dan kondisi lapangan,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





