TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemerintah Kabupaten Berau mulai menyiapkan langkah konkret untuk meningkatkan keselamatan pelajar melalui penyediaan layanan angkutan sekolah. Dinas Perhubungan (Dishub) Berau dijadwalkan akan menggelar uji coba atau simulasi angkutan pelajar pada pertengahan tahun ini, sebagai tahap awal pengembangan transportasi ramah dan aman bagi siswa.
Program ini sekaligus diarahkan untuk menekan tingginya penggunaan sepeda motor oleh pelajar, yang selama ini dinilai berkontribusi besar terhadap angka kecelakaan lalu lintas di daerah.
Hal itu tercermin dalam dokumen perencanaan daerah, mulai dari Rencana Kerja (Renja) 2027, Perubahan Renja 2026, hingga Rencana Strategis Dishub Berau 2025–2029 yang selaras dengan program prioritas 8 Plus.
Kepala Dishub Berau, Andi Marewangeng, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya telah memasuki fase awal persiapan, khususnya terkait dukungan terhadap pengembangan transportasi publik dan layanan angkutan pelajar.
Dishub Berau juga telah menjalin koordinasi dengan pemerintah provinsi, terutama terkait pemanfaatan terminal tipe B yang berada di bawah kewenangan provinsi. Sementara itu, Kabupaten Berau hingga kini belum memiliki terminal tipe C yang menjadi kewenangan kabupaten.
“Untuk operasional angkutan tentu dibutuhkan terminal. Saat ini kita belum punya terminal tipe C. Lahannya sudah kami ajukan, tetapi masih menunggu persetujuan,” jelasnya.
Meski kewenangan pendidikan terbagi antara pemerintah kabupaten dan provinsi—di mana SD dan SMP menjadi tanggung jawab kabupaten, sementara SMA di bawah provinsi—Dishub Berau memastikan koordinasi lintas pemerintah tetap berjalan.
“Kalau kita lihat data kecelakaan, pengendara roda dua yang paling banyak terlibat itu justru pelajar SMP dan SMA. Jadi walaupun kewenangannya berbeda, tetap harus kita sinergikan,” katanya.
Dengan dasar tersebut, program angkutan pelajar dirancang untuk menyasar kelompok usia yang paling rentan terhadap kecelakaan lalu lintas. Terlebih, banyak di antara mereka yang belum memenuhi syarat legal berkendara.
“Jika program ini berjalan, paling tidak kita bisa menurunkan angka kecelakaan kendaraan roda dua di kalangan pelajar,” tegasnya.
Dishub Berau menargetkan layanan angkutan pelajar dapat diterapkan secara merata, baik di wilayah perkotaan, pesisir, maupun pedalaman. Namun demikian, pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.
“Prinsipnya kita ingin berjalan beriringan. Tapi dari data kecelakaan, wilayah perkotaan memang masih menjadi yang tertinggi, sehingga itu akan menjadi prioritas awal,” tambahnya.
Saat ini, Dishub Berau baru melakukan simulasi perencanaan secara daring. Ke depan, kajian lapangan akan dilakukan untuk mengetahui kebutuhan riil, termasuk penyesuaian rute, jadwal antar-jemput sesuai jam sekolah, serta titik parkir armada.
Sebagai langkah awal, simulasi operasional akan menggunakan bus milik Pemerintah Kabupaten Berau. Uji coba tersebut direncanakan berlangsung di kawasan perkotaan pada pertengahan tahun ini, sebelum program diperluas ke wilayah lainnya.
“Kita mulai dulu dengan bus yang ada. Kita uji coba di kota, walaupun belum maksimal. Yang penting program ini bisa mulai berjalan,” kuncinya. (*/)
Penulis : Muhammad Izzatullah
Editor : Ikbal Nurkarim





