TANJUNG BATU, PORTALBERAU– Pemkab Berau mulai membidik pasar internasional berbasis kebutuhan jemaah haji dan umrah sebagai peluang baru pengembangan produk perikanan lokal.
Dalam kesempatannya, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mendorong produk olahan ikan kaleng asal Berau agar mampu menembus pasar Arab Saudi, khususnya untuk konsumsi jemaah Indonesia di Tanah Suci.
Upaya tersebut diarahkan melalui penguatan proses produksi dan pengemasan di SMKN 3 Perikanan Tanjung Batu.
Menurutnya, potensi perikanan Berau sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan berorientasi ekspor, asalkan didukung standar produksi, keamanan pangan, serta kemasan yang memenuhi ketentuan internasional.
“Potensi kita besar, tinggal bagaimana proses pengolahan dan packaging-nya ditingkatkan agar bisa berstandar ekspor,” ujar Sri.
Ia menyoroti masih manualnya proses pengemasan produk ikan kaleng yang selama ini berjalan, sehingga kapasitas produksi dan kualitas belum optimal.
Kondisi tersebut kata dia, dinilai menjadi tantangan utama jika ingin masuk ke pasar global yang menuntut konsistensi mutu dan volume produksi.
Karena itu, dirinya meminta Dinas Perikanan Berau untuk lebih serius melakukan pendampingan teknis di SMKN 3 Perikanan Tanjung Batu, terutama pada aspek pengemasan makanan kaleng.
“Dinas Perikanan tolong dimaksimalkan di SMKN 3 Tanjung Batu, terutama untuk packaging makanan kaleng. Karena selama ini masih dikerjakan secara manual,” tegasnya.
Lebih jauh, ia juga mendorong perluasan kerja sama lintas sektor, termasuk dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), guna membuka akses pemasaran internasional.
Arab Saudi disebut sebagai pasar potensial karena setiap tahun menampung jutaan jemaah haji dan umrah asal Indonesia.
“Kalau dikerjasamakan dengan KKP, mereka siap membantu memasarkan ke Jeddah, Arab Saudi. Apalagi ada hotel milik Indonesia di sana, ini peluang yang sangat terbuka,” jelasnya.
Namun demikian, Sri menekankan bahwa peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika produksi dilakukan dalam skala besar dan memenuhi standar ekspor, mulai dari kualitas bahan baku, keamanan pangan, hingga kemasan yang layak internasional.
“Bukan hanya jumlah, tapi kualitas dan standarnya juga harus terpenuhi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih berada pada tahap pengujian kelayakan produk dari sisi keamanan pangan. Pengujian tersebut menjadi syarat utama sebelum produk dapat diproduksi massal dan dipasarkan secara luas.
“Kita masih melakukan uji F0 untuk kelayakan bakteri. Hasilnya sedang diuji di UGM,” ungkapnya.
Hasil uji tersebut nantinya akan menjadi dasar pengurusan perizinan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Setelah izin edar diperoleh, barulah produksi dalam skala besar dapat dilakukan.
“Kalau hasil dari UGM sudah keluar, akan dilanjutkan ke BPOM sebagai syarat izin edar,” ucapnya.
Selama ini, Dinas Perikanan Berau telah menggandeng SMKN 3 Perikanan Tanjung Batu sebagai mitra produksi. Pemkab Berau juga telah memberikan bantuan mesin pengalengan ikan pada 2024 lalu. Status SMKN 3 sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dinilai memudahkan pengelolaan produksi tanpa harus menunggu alokasi anggaran pemerintah.
“Kita tentu mengikuti arahan Ibu Bupati. Tapi langkah awal yang paling penting saat ini adalah izin BPOM,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





