TANJUNG REDEB, PORTALBERAU – Pemkab Berau mulai menata langkah jangka panjang untuk memperkuat sektor perkebunan. Tidak sekadar meningkatkan produksi, Berau kini membidik posisi strategis sebagai sentra pengadaan bibit kakao untuk wilayah Kalimantan Timur bagian utara.
Upaya tersebut diwujudkan melalui rencana pembangunan kebun induk kakao di UPTD Balai Benih Tanaman Perkebunan (BBTP), Kampung Tumbit Melayu. Kebun induk ini diproyeksikan menjadi tulang punggung penyediaan bibit kakao bersertifikat sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pasokan bibit dari luar daerah.
Pelaksana Bidang Produksi Dinas Perkebunan Berau, Sunarto, mengatakan selama ini kebutuhan bibit kakao petani masih banyak bergantung pada provinsi lain maupun pihak swasta. Kondisi tersebut dinilai tidak ideal untuk pengembangan perkebunan berkelanjutan.
“Sebagai balai benih, UPTD memang diberikan kewenangan untuk memproduksi dan menyediakan bibit unggul. Untuk tahap awal, kami merencanakan pembangunan kebun induk kakao seluas satu hektare,” ungkapnya.
Lanjutnya, UPTD BBTP Kampung Tumbit Melayu memiliki luas lahan sekitar 10 hektare yang telah ditata sesuai peruntukannya. Area depan difungsikan sebagai kebun produksi, sementara bagian belakang disiapkan sebagai kebun induk.
Dari satu hektare kebun induk kakao, kata dia, diperkirakan dapat ditanami sekitar 1.000 pohon kakao yang nantinya menjadi sumber entres dan benih unggul. Namun, kebun induk tidak dapat langsung dimanfaatkan dalam waktu singkat.
“Persiapan kebun induk dimulai dari pembukaan lahan dan penyiapan teknis. Untuk benar-benar berfungsi sebagai sumber benih, tanaman kakao membutuhkan waktu minimal empat tahun,” jelas Sunarto.
Selain itu ia menyebut, untuk memastikan kualitas dan kesesuaian standar, pengelolaan kebun induk kakao akan dilakukan oleh tim UPTD BBTP dengan pendampingan teknis dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI).
Diakuinya juga, tim BRMP TRI dijadwalkan turun langsung ke lokasi guna meninjau kesiapan lahan serta memberikan arahan teknis, mulai dari pengelolaan tanaman hingga pemenuhan standar kebun induk bersertifikat.
Hingga kini, keberadaan kebun induk kakao di Kalimantan Timur masih sangat terbatas. Kondisi ini menjadikan Berau ditetapkan sebagai salah satu wilayah strategis untuk pengadaan bibit kakao di kawasan utara Kaltim.
“Di Kaltim kebun induk kakao yang benar-benar berfungsi sebagai sumber benih masih sangat terbatas. Karena itu, Berau diproyeksikan mengambil peran penting,” terangnya.
Sebagai bagian dari persiapan, Dinas Perkebunan Berau juga telah melakukan koordinasi dan studi teknis ke BRMP TRI. Tidak hanya mempelajari konsep, tim juga turun langsung melihat praktik pengelolaan kebun kakao, termasuk proses pascapanen.
“Studi yang kami lakukan tidak sebatas teori. Kami melihat langsung kebun kakao dan proses pengelolaannya di lapangan,” katanya.
Ke depan, bibit kakao bersertifikat yang dihasilkan dari kebun induk ini akan disalurkan kepada petani melalui mekanisme yang ditetapkan pemerintah daerah.
Ia menambahkan, selain kakao, Dinas Perkebunan Berau juga merencanakan pembangunan kebun induk lada dengan pendanaan dari APBN. Namun hingga saat ini, realisasi kedua program tersebut masih menunggu kepastian dukungan anggaran.
“Dari sisi perencanaan dan kesiapan lahan sudah siap. Tinggal menunggu kejelasan anggaran,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





