TANJUNG REDEB, PORTALBERAU– Penataan kawasan tepian sungai di depan Keraton dan Museum Gunung Tabur kini tak lagi diposisikan sebagai proyek fisik semata.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Berau melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) menghadirkan sentuhan budaya dan nilai sejarah pada desain kawasan, sehingga berfungsi sekaligus sebagai ruang edukasi publik.
Dalam kesempatannya, Kabid SDA PUPR Berau, Hendra Paranata, mengatakan pekerjaan yang dimulai sejak awal tahun anggaran 2025 ini merupakan bagian dari rangkaian penanganan kawasan tepian sungai Gunung Tabur.
Namun, kata dia, khusus di titik depan keraton, konsep penataan dibuat berbeda karena memiliki kedekatan dengan identitas sejarah daerah.
“Ini bukan hanya penanganan kawasan. Di sini kita angkat makna sejarah dan budaya Gunung Tabur. Desainnya kita buat bertema, agar pengunjung bisa mengenal kembali jejak para pendahulu,” jelasnya.
Di sejumlah pilar kawasan, tercantum nama tokoh dan tahun perjalanan sejarah Kesultanan Gunung Tabur. Hendra menyebut, elemen tersebut dirancang sebagai sarana pengenalan sejarah bagi generasi muda yang selama ini lebih banyak mengenal kisah daerah melalui literasi digital.
“Harapannya, anak muda yang datang ke sini bisa membaca, lalu mencari tahu lebih jauh tentang tokoh dan peristiwa di masa lalu. Jadi kawasan ini menjadi ruang belajar terbuka,” ujarnya.
Tak hanya itu, replika meriam dan ornamen bambu turut melengkapi kawasan sebagai simbol perjuangan dan kisah lokal yang telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Gunung Tabur.
“Setiap elemen punya makna. Kita ingin mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh memutus hubungan dengan sejarah,” tambahnya.
Hendra menyampaikan, nilai pekerjaan di zona tersebut berada di kisaran Rp10–11 miliar dalam satu rangkaian program penataan. Jika anggaran memungkinkan, pihaknya berharap penataan bernuansa budaya dapat dilanjutkan pada segmen lain di kawasan yang sama.
“Kita berharap penataan ini bukan hanya memperkuat kawasan tepian sungai, tetapi juga menghadirkan ruang publik yang menghidupkan kembali identitas budaya sebagai bagian dari warisan sejarah Gunung Tabur,” kuncinya. (*/)
Penulis: Wahyudi
Editor: Ikbal Nurkarim





