TANJUNG REDEB, PORTALBERAU — Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Makmur HAPK, menggelar dialog bersama masyarakat di sejumlah kecamatan di Kabupaten Berau, Senin (8/12) malam.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pejabat Pemkab Berau, pensiunan ASN, serta Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Berau, Salim.
Dialog itu membahas pengawasan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sekaligus menjadi wadah penyampaian aspirasi masyarakat.
Makmur HAPK menegaskan pentingnya peran wakil rakyat untuk turun langsung ke masyarakat dalam menyerap masukan dan memperkuat silaturahmi.
“Program ini tentunya sebagai wadah silaturahmi dan untuk menampung aspirasi terkait apa yang telah dan akan dilakukan oleh wakil rakyat dan pemerintah,” ujar Makmur kepada awak media usai kegiatan.
Ia juga menilai pentingnya keterbukaan dalam penggunaan anggaran daerah agar masyarakat mengetahui alur pembangunan yang berjalan maupun yang direncanakan.
Menurutnya, transparansi anggaran akan memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintahan.
Dalam kesempatan itu, Bupati Berau periode 2005–2015 tersebut berharap seluruh poin penting dari dialog tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah, khususnya Pemkab Berau. Salah satu isu utama yang mencuat yakni soal revitalisasi pohon dan maraknya aktivitas pertambangan ilegal.
“Banyak pertanyaan mengenai kondisi hutan yang mulai gundul. Peristiwa di Sumatra menjadi sorotan dan menjadi peringatan bagi daerah lain,” tegasnya.
Makmur memastikan seluruh aspirasi masyarakat akan ia bawa untuk diperjuangkan di tingkat provinsi.
Ia juga berjanji terus berkoordinasi dengan Pemkab Berau agar penyelesaian keluhan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara konkret.
“Saya rasa banyak persoalan mendasar yang disampaikan masyarakat, dan ini harus segera ditangani,” tandasnya.
Sementara itu, Alexander, salah satu peserta yang juga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Berau (UMB), menambahkan pentingnya perhatian terhadap sektor wisata sejarah.
Menurutnya, fokus pemerintah masih dominan pada wisata bahari, sementara potensi sejarah belum tergarap optimal.
“Kita punya banyak objek wisata sejarah. Jika dikemas dengan baik, ini bisa menarik wisatawan dan meningkatkan nilai daerah, bukan hanya wisata bahari,” tutupnya. (Adv)
Editor: Ikbal Nukarim





